Yuk, Ajarkan Anak Peduli pada Lingkungan (2)

Lalu, bagaimana peran orangtua, sekolah dan pihak lain dalam membantu anak agar peduli lingkungan? Secara umum, perannya sama. Hanya saja, bentuk dan pelaksanaannya dapat berbeda.

Peran orangtua/keluarga

Model yang baik

Peran orangtua sebagai model dalam kehidupan sehari-hari sangat penting. Apa yang diajarkan di sekolah ataupun oleh masyarakat/negara kerap berbenturan dengan sikap orangtua yang kurang tepat sebagai model. Contoh, ketika di sekolah anak diajarkan membuang sampah pada tempatnya. Namun, jika orangtua tidak menjadi model yang baik dalam membuang sampah, anak mengalami kebingungan. Mana yang akan ia ikuti. Anak dapat saja mengikuti perilaku orangtua, yaitu membuang sampah sembarangan.

-Menerapkan kepedulian

Peran lainnya adalah bagaimana penerapan kepedulian lingkungan alam pada kehidupan sehari-hari. Contoh, ajak anak untuk membersihkan akuarium, menyiram tanaman, memberi pupuk, memberi makan hewan peliharaan. Selain itu, orangtua juga dapat mengajak anak untuk kerja bakti membersihkan lingkungan rumah. Ajak anak untuk mematikan air jika tidak dipakai, memakai tisu/listrik seperlunya, serta mengurangi pemakaian kantong plastik.

-Internalisasi nilai kehidupan

Peran orangtua selanjutnya adalah proses internalisasi nilai-nilai kehidupan akan lingkungan alam. Orangtua memiliki kesempatan yang lebih banyak ketimbang sekolah/masyarakat/negara untuk melakukan proses ini. Proses internalisasi yang dimaksud adalah bagaimana orangtua menjelaskan nilai-nilai secara personal terkait kepedulian lingkungan. Contoh, dalam menjelaskan pemakaian air seperlunya, nilai yang dapat ditanamkan orangtua adalah bagaimana kehidupan orang di tempat lain yang mengalami kekeringan, bagaimana jika kita yang mengalaminya. Orangtua juga dapat menjelaskan bagaimana Tuhan menciptakan alam (termasuk air) untuk kita dan sebagai manusia ciptaan-Nya adalah  memakai dan mengelolanya dengan bertanggung jawab.

 

PERAN SEKOLAH

Peran sekolah adalah dari segi ilmu pengetahuan menjelaskan tentang perlunya manusia peduli lingkungan alam. Misalnya melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ataupun social, Biologi, Ekonomi, Agama, ataupun pelajaran lain yang terkait lingkungan hidup.

Sekolah juga berperan mengajarkan penerapan praktis terkait lingkungan alam. Misal, kegiatan kerja bakti lingkungan sekolah, program menjaga kebersihan sekolah/kelas, piket kelas untuk merawat tanaman di sekitar kelas, menanam dan merawat tanaman sekolah, kunjungan ke perkebunan/kebun binatang/taman, program memakai air di sekolah secara hemat dan sebagainya.

 

Peran masyarakat/Negara

Peran yang dapat dilakukan misalnya melalui penyuluhan di media seperti iklan-iklan ataupun tayangan media elektronik mengenai budaya Go Green, buang sampah pada tempatnya, kebersihan lingkungan.

Selain itu, penyediaan ruang hijau seperti taman di lingkungan/kota yang makin banyak akan memfasilitasi keluarga untuk menanamkan kepedulian lingkungan alam pada anak.

 

 

BILA ANAK KURANG PEDULI

Bil anak kurang peduli terhadap lingkungan, apa yang harus orangtua lakukan? Berikut di antaranya:

  • Evaluasi diri apakah sudah membericontoh dan teladan?. Hal yang terpenting, anak harus melihat kita melakukannya terlebih dahulu. Dalam hal ini kedua orang tua perlu melakukannya (bukan hanya salah satu), sehingga anak tak mengalami kebingungan untuk mengikuti yang mana abila ayah dan ibu berbeda sikap.
  • Perlu evaluasi apakah sudah melakukan pendekatan yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan. Apa sekadar memerintah/menyuruh/menuduh/menasehati? Sebaiknya orangtua melakukan pendekatan diskusi. Bahkan, dapat memperlihatkan kasus-kasus nyata terkait kepedulian lingkungan alam. Anak juga dapat dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang terkait kepedulian lingkungan alam.
  • Diskusi dapat dilakukan mengenai alasan kenapa kita harus peduli terhadap lingkungan alam dan bagaimana pendapat anak. Bagaimana perasaannya terhadap lingkungan alam, apa yang menjadi kesulitannya dalam melakukan kegiatan yang terkait kepedulian lingkungan alam.
  • Orangtua juga perlu mendukung dengan fasilitas yang hemat energi seperti shower, tisu yang terbatas ketersediaannya (agar hemat pemakaian). Misal, setiap anggota keluarga memiliki ‘jatah’ penggunaan tisu tersendiri sehingga masing-masing belajar bertanggung jawab dalam penggunaan tisu yang disediakan.
  • Hukuman yang dapat diberikan adalah lebih pembatasan pemakaian energi yang dipakai. Orangtua juga dapat menginfokan tarif listrik dan air. Lalu, libatkan anak untuk ikut bertanggung jawab terhadap kenaikan pemakaian air dan listrik. Orangtua dapat memotong uang jajan sebagai konsekuensinya, dimana hal ini dapat dijelaskan apabila anak tidak hemat listrik dan air maka biaya akan naik. Hal tersebut juga akan dirasakan oleh setiap anggota keluarga. Bahkan, sesungguhnya pemborosan listrik/air juga akan dirasakan oleh lingkungan alam. Tentunya besar keterlibatan anak disesuaikan dengan kemampuan anak.

Foto: freepik.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 + twenty =