Sayangi Lingkunganmu !

Pembicara : Rahmi Sosiawaty

Kursus WA hari Rabu, 30 Januari 2019

Seberapa sayang kita terhadap lingkungan kita? Tentunya sekarang sudah semakin banyak alasan kenapa kita perlu menyayangi dan menjaga lingkungan kita. Salah satu alasannya antara lain karena impact pemanasan global sudah terasa oleh kita para orang tua, dan akan makin terasa lagi kepada anak-anak kita jika kita tidak mulai menjaga dan menyayangi lingkungan dari diri kita dan keluarga kita sendiri.

Menurut Survei Litbang Koran Sindo, ada 10 masalah besar lingkungan di Indonesia, yakni: 1) sampah; 2) banjir; 3) sungai tercemar; 4) pemanasan global; 5) pencemaran udara; 6) rusaknya ekosistem laut; 7) kerusakan hutan; 8) abrasi; 9) pencemaran tanah; 10) sulitnya air bersih. Masalah tersebut menjadi sangat krusial karena menyangkut kualitas hidup kita dimasa mendatang. Karena lingkungan yang sehat, akan menjadikan tubuh kita sehat juga.

  1. Sampah

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia memproduksi sampah hingga 65 juta ton pada 2016. Jumlah ini naik 1 juta ton dari tahun sebelumnya. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa salah satu produksi sampah terbesar datang dari rumah tangga. Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (B3) Rosa Vivien Ratnawati pada Februari 2018 mengatakan proyeksi volume sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga pada 2018 mencapai 66,5 juta ton.

Dampak dari sampah sangat besar terhadap kerusakan lingkungan. Misalnya dari sampah yang dibuang sembarangan akan membawa akibat terjadinya pencemaran tanah, banjir, air yang tercemar, sampai dengan rusaknya ekosistem laut.

Jika terjadi pencemaran tanah, tentunya mengurangi kesuburan tanah, rusaknya ekosistem mahluk hidup serta timbulnya wabah penyakit. Siapa yang akan menderita penyakit? Tentu saja orang-orang yang hidup dilingkungan tersebut. Sama halnya dengan pencemaran air. Jika air tercemar, tentu orang-orang yang hidup dari air tersebut akan menderita penyakit.Penyakit yang bisa diderita korban antara lain kolera, disentri, diare, hepatitis A, keracunan timbal, sampai dengan polio. Dimana akibat dari penyakit tersebut berdampak pada nyawa manusia.

Untuk kasus pencemaran air dengan timbal, korban yang mengalami keracunan timbal yang terdapat dalam air/sungai yang tercemar tidak dapat diubah. Kadar timbal dalam darah di luar ambang batas sangat berbahaya, khususnya bagi anak-anak dan ibu hamil. Menurut WHO, kadar timbal dalam darah yang sangat tinggi bisa berdampak ketidakmampuan belajar, masalah perilaku, penurunan IQ, dan keterbelakangan mental.

Jika terjadi banjir, yang saat ini sudah cukup sering terjadi diberbagai wilayah Indonesia serta dunia, tentunya akan membawa kerugian yang cukup besar bagi korban. Dari kerusakan sarana dan prasarana, jalur transportasi menjadi lumpuh, lingkungan yang terkena banjir menjadi tercemar, susahnya mendapatkan air bersih, sampai dengan terkikisnya tanah dan menjadi longsor.

Untuk kerusakan ekosistem laut, untuk penggemar makanan seafood, tentunya akan berdampak pada kesehatan. Misalnya tanpa kita tau bahwa seafood yang kita konsumsi ternyata mengandung plastic atau limbah beracun lainnya. Atau bahkan karena kerusakan ekosistem laut, kita tidak dapat lagi mengkonsumsi ikan laut karena ikannya tidak ada dan kalaupun ada pasti tercemar limbah plastik. Sejumlah riset mengemukakan, kandungan plastik di dalam tubuh ikan, bila akhirnya dikonsumsi manusia dapat menyebabkan beragam masalah kesehatan, mulai peradangan tubuh, kematian sel, sampai kerusakan saluran pencernaan.

2. Pencemaran Udaha

Berdasarkan artikel yang diterbitkan Tempo pada tanggal 17 Januari lalu, World Health Organization (WHO) memasukkan polusi udara sebagai salah satu tantangan kesehatan global sepanjang 2019 yang harus menjadi prioritas negara-negara di seluruh dunia. Polusi udara dianggap sebagai dalang dari meningkatnya penderita kanker, penyakit paru-paru dan pernapasan, serta penyakit jantung di seluruh dunia.

Data WHO menyebutkan sembilan dari sepuluh penduduk bumi menghirup udara yang terkontaminasi polusi setiap hari. Saking berbahayanya, Direktur Umum WHO menyebutkan polusi udara sebagai ‘the new tobacco’. Polutan mikroskopis di udara dapat menembus sistem pernapasan dan peredaran darah yang mengakibatkan kerusakan pada paru-paru, jantung, dan otak. Setiap tahunnya, polusi udara menyumbang kematian tujuh juta orang karena kanker dan penyakit lainnya yang dipicu oleh polusi udara.

Dalam tiga tahun terakhir, WHO mencatat tingkat polusi udara meningkat hampir dua kali lipat. Sebanyak 97 persen kota-kota di negara-negara berpenghasilan rendah memiliki kualitas udara buruk yang tidak memenuhi pedoman kualitas udara WHO. Ketika kualitas udara menurun, risiko stroke, jantung, kanker paru-paru, dan penyakit pernapasan kronik dan akut, termasuk asma akan meningkat.

Penyebab utama pencemaran udara menurut WHO adalah pembakaran bahan bakar fosil. Dan pembakaran bahan bakar fosil ini pula yang merupakan kontributor utama perubahan iklim yang mengancam kesehatan manusia. WHO memperkirakan perubahan iklim akan menyebabkan 250 ribu kematian tambahan per tahun yang berasal dari kekurangan gizi, malaria, diare, dan stres akibat cuaca panas, sepanjang tahun 2030-2050.

Apa yang moms & dads bayangkan kalau melihat gambar ini?

Selain pembakaran bahan bakar fosil, pencemaran udara juga disebabkan oleh pembakaran sampah yang masih terjadi dilingkungan sekitar kita. Hal-hal tersebut juga menjadi factor pemanasan global.

3. Kerusakan hutan

Membaca artikel dari WWF, hutan tropis Indonesia adalah rumah dan persembunyian terakhir bagi kekayaan hayati dunia yang unik. Keanekaragaman hayati yang terkandung di hutan Indonesia meliputi 12 persen species mamalia dunia, 7,3 persen species reptil dan amfibi, serta 17 persen species burung dari seluruh dunia. Diyakini masih banyak lagi spesies yang belum teridentifikasi dan masih menjadi misteri tersembunyi di dalamnya. Sebuah contoh nyata misalnya, data WWF menunjukkan antara tahun 1994-2007 saja ditemukan lebih dari 400 spesies baru dalam dunia sains di hutan Pulau Kalimantan.

Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Berdasarkan data FAO tahun 2010 hutan dunia – termasuk di dalamnya hutan Indonesia – secara total menyimpan 289 gigaton karbon dan memegang peranan penting menjaga kestabilan iklim dunia.

Sayangnya kerusakan hutan di tanah air cukup memprihatinkan. Berdasarkan catatan Kementrian Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang.

Kerusakan atau ancaman yang paling besar terhadap hutan alam di Indonesia adalah penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi perkebunan, kebakaran hutan dan eksploitasi hutan secara tidak lestari baik untuk pengembangan pemukiman, industri, maupun akibat perambahan. Kerusakan hutan yang semakin parah menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem hutan dan lingkungan disekitarnya. Contoh nyata yang frekuensinya semakin sering terjadi adalah konflik ruang antara satwa liar dan manusia. Rusaknya hutan habitat satwa liar menyebabkan mereka bersaing dengan manusia untuk mendapatkan ruang mencari makan dan hidup, yang sering kali berakhir dengan kerugian bagi kedua pihak. Rusaknya hutan telah menjadi ancaman bagi seluruh makhluk hidup.

Masalah-masalah yang sudah disebutkan ada jalan keluarnya. Dan saat ini pun pemerintah juga sangat mendukung program-program perbaikan lingkungan, terutama untuk menghentikan minimal mengurangi pemanasan global. Pemerintah negara-negara di dunia pun sudah menyepakati komitmen untuk meningkatkan kualitas udara. Komitmen-komitmen tersebut mereka tuangkan dalam bentuk program-program seperti misalnya program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dituangkan dalam kebijakan pengelolaan hutan Lestari dan pengurangan deforestasi.

Pemerintah juga membuat program dan kebijakan yang sangat terkait dengan kehidupan kita sehari-hari. Misalnya pembuatan Banjir Kanal Timur sebagai upaya penanggulangan banjir di Jakarta. Kemudian, dengan mengupayakan perbaikan-perbaikan transportasi umum untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Kemudian ada juga program pengurangan sampah plastic dimana kita sebagai konsumen saat ini harus membayar plastic yang kita gunakan untuk membungkus belanjaan kita di supermarket/mini market.

Kita sebagai bagian dari masyarakat pun bisa membantu untuk memperbaiki lingkungan. Karena dari seluruh masalah lingkungan tersebut hulunya terletak pada perilaku manusia, maka jika kita menginginkan lingkungan yang sehat dan baik, tentunya harus dimulai dari perilaku sendiri.

Untuk mengurangi sampah ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, jangan membuang sampah sembarangan. Naaah…. Ini adalah hal penting yang juga bisa jadikan contoh dan ajarkan untuk anak-anak kita. Kalau ada sampah, lihat kanan-kiri, ada tempat sampah ga ya? Kalo ga ada, kita kantongin aja dulu sampai ketemu tempat sampah.

Kedua, mencoba mengurangi produksi sampah. Bagaimana caranya?

Pertama dengan mulai memisahkan sampah rumah tangga menjadi sampah organic dan sampah non-organic. Sampah organic bisa kita kumpulkan dan kita buat menjadi kompos yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk tanaman di rumah.

Bagaimana cara membuat kompos? Sangat mudah. Semua sampah organic yang terdiri dari sisa sayuran, sisa makanan, kulit-kulit buah, daun-daun kering, kulit pohon dan berbagai macam bahan organic, dikumpulkan dalam tong komposter (ada yang menjual secara online) dan disemprotkan bakteri dalam bentuk cairan (EM4) yang dicampur dengan air gula. Jika hal ini rutin dilakukan setiap hari disetiap rumah tangga, pasti produksi sampah rumah tangga akan berkurang secara drastis.

Bagaimana dengan sampah non-organic, dalam hal ini sampah plastik?

Saat ini semakin banyak komunitas-komunitas yang mempromosikan daur ulang sampah plastic. Ada yang menjadikan sampah berupa botol-botol plastic, sebagai usahanya. Tapi bagaimana dengan sampah-sampah berupa plastic kresek atau plastic pembungkus makanan? Karena sampah jenis itu saat ini ga laku dijual.

Sekarang ada yang mengembangkan solusi dari masalah sampah plastic kresek dan pembungkus makanan. Ada yang membuat menjadi tas ataupun merchandise lain. Ada juga yang kemudian membuatnya menjadi ecobrick. Cara membuat ecobrick sebenarnya cukup mudah, tapi dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan kita sehingga yang kita ingin buat dari ecobrick tersebut bisa terealisasi. Caranya kita kumpulkan botol-botol plastic, plastic kresek serta plastic pembungkus makanan. Bersihkan botol dan plastic dari sisa-sisa makanan/minuman yang menempel dan keringkan. Setelah kering, plastic bisa dipotong kecil-kecil untuk kemudian dimasukan ke dalam botol-botol plastic bekas. Isi botol plastic tersebut sampai penuh, kemudian ditutup.

Cara-cara simple tersebut juga bisa kita ajarkan kepada anak-anak kita dirumah. Misalnya meminta bantuan anak-anak untuk guntingi sampah-sampah plastic menjadi bentuk yang lebih kecil sehingga lebih mudah dimasukan kedalam botol bekas.

Naaah…. ini salah satu bentuk yang dibuat dari ecobrick

Mungkin akan ada pertanyaan, bagaimana sampah yang dalam bentuk karton, kardus, ataupun kertas yang juga lumayan banyak?

Kalau kertas, bisa didaur ulang. Caranya dengan menjadikannya bubur kertas dulu, dijemur, kemudian dibentuk. Kertas daur ulang bisa kita manfaatkan untuk membuat berbagai macam merchandise yang lucu-lucu, ataupun bisa juga dibuat untuk nulis lagi.

Naaah sekarang, apakah dilingkungan moms & dads sudah ada komunitas untuk melakukan daur ulang sampah plastic? Kalau belum, yuuk mulai dulu dari diri dan keluarga kita!


Untuk polusi udara, bagaimana cara kita untuk membantu mengurangi polusi udara?

Pertama tentunya dengan berhenti atau paling tidak mengurangi pembakaran sampah. Dengan cara-cara yang saya sebutkan diatas, sampah tidak perlu lagi dibakar.

Kedua dengan berupaya memanfaatkan transportasi public.
Naaah…. Untuk transportasi public, kita do’akan dan juga advokasikan alias promosikan kepada para pembuat kebijakan supaya membuat transportasi yang ramah lingkungan serta nyaman bagi kita para konsumennya.

Gimana dengan kerusakan hutan?

Tetap bisa koq mulai dari diri sendiri. Dengan cara kita tanam kembali hutan-hutan yang rusak. Atau kalau kita tinggal jauh dari hutan, kita mulai aja nanem tumbuhan sayuran serta buah-buahan sendiri dan membuat lingkungan sekitar kita menjadi hijau dan segar kembali.

Ingat! Siklus semua itu adalah dari manusia. Jadi jika ingin memperbaiki, kita harus berubah dari diri kita sendiri.

Ini contoh-contoh dari anggota APA tentang pemanfaatan limbah :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − fifteen =