Pentingnya Self Awareness, Cara Mengenal Diri dengan Baik

“Kenali dirimu sendiri!” Kata-kata itu sering kali kita dengar, bukan? Ya, mungkin sebagian besar dari kita sepenuhnya menyadari siapa diri kita. Tapi, apakah kita mengenali kelebihan dan kekurangan masing-masing? Apakah kita tahu akan motiviasi dan emosi kita?

Nah, cara pertama yang dapat kita lakukan adalah  mengenali tentang kelebihan dan kekurangan atau keburukan yang ada pada diri kita. Ketahui apa saja sifat-sifat baik dan buruk kita. Lalu, buatlah daftar sederhana mengenai sifa-sifat tersebut. Kira-kira mana yang lebih banyak? Hmm, mungkin kita bingung, ternyata lebih banyak jeleknya, ya!

Sekarang, coba pikirkan dan rencanakan bagaimana mengelola semua yang tercantum dalam daftar tersebut. Misalnya, pikirkan bagaimana cara mengelola keburukan kita, seperti mudah marah atau tersinggung dan sebagainya. Begitu juga terkait kebaikan kita. Pikirkan bagaimana cara mengelolanya. Bila kita tahu tentang kebaikan kita, misalnya pintar memasak, pikirkan apa rencana atau langkah berikutnya.

Cobalah memulai sebuah mimpi dan lakukan langkah-langkah yang berarti untuk menggapai mimpi itu dengan kebaikan yang kita miliki. Jangan lupa untuk selalu meminta dukungan dari orang-orang terdekat, seperti orangtua, suami, saudara, teman.

Selanjutnya, cobalah kita melihat lebih dalam lagi tentang nilai inti jati diri kita. Tentunya hal ini bukan merujuk pada pesona fisik, misalnya cantik atau tampan. Akan tetapi, lebih kepada prinsip-prinsip moral yang selalu kita pegang teguh dan dijadikan keyakinan dalam hati kita.  Bahasa kerennya, Core Values. Misalnya,  memegang teguh kejujuran, integritas, percaya diri, dan lainnya.  Tapi percaya diri jangan terlalu berlebihan karena itu justru akan menjadi suatu kelemahan kita.

HADAPI EGO SENDIRI

Mungkin semua setuju ya bahwa “tidak ada perang yang lebih besar daripada perang melawan diri sendiri” Bagaimana kita mengontrol ego kita? Setiap manusia memiliki ego. Ego seperti apa yang harus ditangani?

Ego itu mewakili perasaan, kepercayaan diri dan hal-hal yang berkaitan dengan diri sendiri. Setiap orang memiliki ego. Dalam batas tertentu, ego menjadi kekuatan. Tapi jika melebihi batas, ego dapat menjadi masalah dan penghalang. Karena itu, dibutuhkan kontrol atas ego kita setiap hari. Pasalnya, dampak buruknya bukan saja bagi diri sendiri, tapi juga dapat berimbas kepada orang lain, pergaulan, karier dan hubungan dengan masyarakat.

Ego dalam batasan positif adalah kekuatan. Sedangkan, ego dalam batasan negatif adalah kelemahan. Manusia memang tidak pernah lepas dari yang namanya ego. Hampir semua orang memiliki sifat egois. Dalam banyak hal, egois sangat tidak baik dalam kehidupan kita. Apalagi, jika sifat egois sudah sangat merugikan orang lain.

Perlu kita tahu, pribadi yang egois adalah yang melihat segala sesuatu dari kacamatanya sendiri. Ia tidak bisa memahami pikiran dan perasaan orang serta selalu menuntut orang untuk mengikuti pendapatnya.

Pribadi egois juga adalah orang yang mementingkan diri sendiri. Dia tidak bisa mempertimbangkan kebutuhan orang dan senantiasa mengedepankan kebutuhannya di atas kebutuhan orang lain. Pribadi yang egois adalah pribadi yang susah sekali untuk tulus, sebab ujung-ujungnya untuk kepentingannya sendiri.

Sebaiknya kita harus mengurangi sifat egois yang ada dalam diri kita.  Cara praktis untuk mengurangi sifat egois adalah selalu berpikiran baik kepada orang lain. Jangan biarkan pikiran negatif masuk kepikiran kita. Jangan suka membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kembangkan sikap empati kita terhadap orang lain dan kembangkan sikap untuk menghargai dan melakukan kepentingan orang lain. Paling penting adalah cobalah untuk lebih ramah terhadap semua orang dengan senyum.

Lalu, bagaimana untuk menghilangkan egois kita? Untuk benar-benar menghilangkannya mungkin tidak bisa karena ego adalah bagian dari sifat alami yang tidak akan pernah hilang. Namun ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengontrol ego, agar kita tidak di kontrol oleh ego.

Ego adalah salah satu aspek internal yang dapat merusak diri sendiri, terutama karakter maupun kemampuan kita.  Bahkan orang yang berhasil menggapai sukses dalam hidupnya harus kehilangan semuanya di akhir hidup mereka hanya disebabkan terlalu mengikuti egonya. Ego tidak dapat dihilangkan, tapi ego dapat dikelola dan disalurkan dengan baik.

Nah, sekarang coba perhatikan dua pertanyaan ini:

  1. Apakah saya merasa superior dari orang lain?
  2. Apakah saya merasa rendah diri (inferior) dari orang lain?

Ego adalah bagian dari diri kita yang selalu merasa diri kita spesial. Ego selalu mencari-cari  pengakuan karena ada hal-hal yang kurang dalam diri kita. Mental block yang ada dalam diri kita bisa saja berasal dari ego.

Kembali ke pertanyaan di atas, bila 1 dari 2 pertanyaan itu jawabannya IYA, maka sudah bisa dipastikan diri kita berada di bawah kendali ego. Tujuan dari setiap ego adalah bukan untuk melihat atau memahami sesuatu, tapi untuk menjadi sesuatu. Kalau kita kendur atau mundur atau tidak bisa mencapai mimpi, kita harus bertanya kepada diri sendiri. Mengapa? Apa yang membuat saya mundur? Karena yang tahu jawabannya adalah diri kita sendiri.

Mimpi kita jangan dicampuri dengan ego. Kalau kita paham dengan kemampuan dan emosional kita, maka kita akan mampu untuk mengendalikan diri sendiri.

Tak dipungkiri bahwa kita dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Bagaimana bila lingkungan tidak mengakomodasi kita untuk berubah. Jawabannya adalah keluar dari lingkungan tersebut. Kita pasti  pernah mengalami masa lalu yang buruk dengan beragam jenis. Pengalaman itulah yang seharusnya membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bukan malah membuat kita trauma untuk melangkah. Bagaimana bila dipengaruhi secara genetik? Itu juga tetap bisa berubah karena pilihan itu ada pada diri sendiri.

Jadi, orang yang egois biasanya tidak memiliki kepercayaan diri yang baik, dan berusaha menutupi kekurangan diri dengan mengedepankan ego yang berlebihan. Di dalam pergaulan hidup sehari-hari hal ini dapat menjadi masalah serius.

Setiap orang memiliki ego, ingin merasa lebih dari orang lain, lebih hebat, lebih pintar, lebih unggul dari orang lain. Saat ada yang berusaha mengkritik atau memberikan masukan, orang yang ego mudah tersinggung dan merusak hubungan pertemanannya.

Sebenarnya, ego jika dikelola dengan baik tentu mendatangkan manfaat. Namun jika tidak tepat dalam mengontrol, justru jadi masalah. Ada orang yang mau menang sendiri, tidak mau mendengar pendapat orang lain, hanya dirinya yang benar, semua salah. Orang seperti ini sulit mendapatkan tempat di hati orang lain. Jika dia adalah kepala rumah tangga atau atasan di tempat kita kerja,  tentu sangat menjengkelkan. Pasalnya, yang paling benar hanya dia saja dan tidak bisa menerima pendapat orang lain.

Nah, marah adalah emosi negatif. Pikiran dan emosi negatif adalah alat yg paling efektif untuk menguras energi diri. Semakin negatif pikiran dan emosi, semakin diri menjadi kalah dalam hidup.

Intinya, ketika kita mengenali diri sendiri, maka kita telah memperkuat diri.. Tetapi ketika kita tak berhasil menerima diri sendiri, maka kita terkalahkan. Bersyukur adalah sumber kekuatan ketika kita menjalani keterbatasan dan kepahitan.

Syukur akan membuat kita selalu realitis tanpa mengurangi semangat mencari kehidupan yang lebih baik. Bersyukur membuat kita tidak putus ada dan sesat oleh ambisi dan ego. Bersyukur juga adalah ciri kita selalu ingat akan kemurahan-Nya yang akan dibalas dengan tambahan nikmat dari-Nya.

“Mengenali dirimu sendiri adalah awal semua kebijaksanaan”, kata filsuf Yunani, Aristoteles. (hil)

Narasumber: Carlina Patuwo, penulis buku The Power of Self Awareness

Foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − thirteen =