Pentingnya Sarapan Bagi Kesehatan

Yuk, biasakan makan pagi agar fit di sepanjang hari. Pastikan menunya bergizi seimbang.  

Saat kita tidur malam, yaitu sekitar 6-8 jam, sebetulnya aktivitas di dalam tubuh tidak ikut terlelap. Metabolisme tubuh terus bekerja, otot usus terus bergerak dan lainnya. Semua kegiatan di dalam tubuh itu menggunakan energi dari  asupan makanan yang kita konsumsi sebelumnya. Nah, ketika kita tidur, energi dalam bentuk cadangan glukosa ini digunakan untuk kegiatan metabolisme dan kerja otot usus yang notabene tidak ikut tidur. Cadangan glukosa ini disimpan di dalam glikogen di hati dan sebagian dalam bentuk glikogen di otot.

Menurut dr. Anna H. Then, Sp.GK, dokter spesialis gizi dari RS Hermina Bogor, semua kegiatan tubuh menggunakan glukosa. Ibarat sebuah kendaraan yang membutuhkan bahan bakar untuk bisa bergerak. Begitupun tubuh. Glukosa adalah ‘bahan bakar’ agar manusia bisa beraktivitas. Nah, karena tubuh terus berakvitas meski sedang tidur, cadangan glukosa bisa habis sekitar 80 persen. Maka tak heran, ketika kita bangun pagi, lambung sudah kosong. Rasa lapar pun mengundang. Setidaknya setengah jam setelah bangun, perut kita sudah bunyi ‘kriuk-kriuk’ ingin makan.

Sarapan atau makan pagi itu penting, salah satunya berfungsi untuk mengisi kembali glukosa yang sudah drop tadi. Gula darah kembali naik. Semua kegiatan dalam tubuh menggunakan glukosa, entah itu berpikir, bergerak, sel darah putih, sel darah merah bahkan sel retina mata untuk melihat membutuhkan glukosa. Tak terkecuali, sel-sel otak pun membutuhkan bahan bakar berupa glukosa agar kita bisa berpikir, konsentrasi dan sebagainya. Jadi bisa ditebak, apa jadinya kalau tidak sarapan sebelum memulai aktivitas di pagi hari? Kita akan sulit berpikir dengan baik, konsentrasi menurun, aktivitas fisik terhambat karena merasa lemas, merasa ngantuk dan ingin tidur lagi.

Memang, kalaupun kita tak sarapan, tubuh mampu bereaksi atau beradaptasi dengan sangat baik. Otak akan memberi sinyal kepada tubuh agar hemat energi. Jadi pembakaran energi yang terjadi lebih sedikit atau lambat. Akan tetapi efeknya metabolisme tubuh pun jadi lebih lambat. Akibatnya, kita akan bergerak lebih lambat tidak segesit kalau sebelumnya sarapan, kemampuan berpikir lebih lambat pula atau dalam bahasa gaul jadi lola (loading lama).

Apa efek selanjutnya? Tanpa disadari kita akan semakin merasa lemas. Metabolisme semakin lambat. Ketika siang hari, kita akan makan dengan porsi atau kalori yang berlebihan saking merasa lapar. Seperti istilah, eat like a pig, makan banyak seakan tak kunjung kenyang, berlebihan, makan dengan cepat. Alhasil, total energi yang masuk sangatlah banyak. Efeknya,  tubuh akan mengiriman sinyal ke otak bahwa energi berlebihan ini perlu disimpan. Seperti halnya kita punya penghasilan banyak, sebagian besar uang akan kita simpan/ditabung. Begitupun yang terjadi pada tubuh. Ketika terjadi energi yang masuk berlebihan, akan “didepositokan” dalam bentuk lemak. Nah, justru dengan meningkatnya bentuk sel lemak, seseorang menjadi berisiko mengalami obesitas.  Terkait dengan itu, sebuah penelitian menyebutkan, wanita yang tak sarapan lebih besar lima kali mengalam obesitas ketimbang wanita yang rutin sarapan.

Jadi, bila pola makan yang tak baik dan benar, sarapan terlewat dan makan siang berlebihan, seseorang kemungkinan menjadi gemuk. Efeknya berisiko mengalami hipertensi, ditambah lagi diabetes, angka koleksterol bakal naik, ujung-ujungnya muncul berbagai penyakit seperti stroke, jantung dan lainnya.

Penting juga diketahui, makanan yang kita santap sebelumnya dicerna tubuh dan dikumpulkan di usus besar/kolon. Kolon ini menyimpan berbagai sisa makanan yang notabene adalah toksik/racun. Nah, sarapan akan memicu gerak peristaltik usus sehingga kita merasa ingin buang air besar. Bila buang air besar rutin, artinya racun-racun akan terbuang. Bila racun itu dibuang secara teratur, kontak racun dengan dinding usus besar tentu berkurang. Itu artinya risiko mengalami kanker usus besar pun menurun. Selain membuang racun, kelebihan lemak dan glukosa pun ikut terbuang. Jadi, risiko untuk mengalami kegemukan, diabetes, hiperkolesterol, semuanya menurun.

SULIT MENANGKAP PELAJARAN

Begitupun yang terjadi pada anak-anak bila tak sarapan sebelum berangkat sekolah. Ia takkan mampu menyerap pelajaran dengan baik, konsentrasi buyar, tidak bisa fokus untuk berpikir, bahkan tertidur di kelas. Itulah efek bola salju bila tak ada nutrisi atau bahan bakar untuk otak dan tubuhnya.

Terkait dengan pentingnya sarapan bagi anak, ada suatu hasil penelitian yang patut kita simak. Riset ini membandingkan antara anak-anak yang rutin sarapan dengan mereka yang tak pernah sarapan. Hasilnya, anak yang tak pernah sarapan rata-rata nilai mata pelajarannya jelek. Bisa dikatakan tingkat kecerdasan mereka lebih rendah ketimbang anak yang selalu sarapan sebelum sekolah.  Dengan sarapan, anak dapat menangkap dan mencerna dengan baik infomasi atau pelajaran yang disampaikan guru.

Selain itu, anak yang sarapan akan memiliki energi yang cukup untuk bergerak/beraktivitas sehingga merangsang pertumbuhan, apalagi bila terkena sinar matahari pagi. Bila pertumbuhan berlangsung bagus, daya tahan tubuh pun baik, ujung-ujungnya anak tak mudah sakit.

Jadi, sarapan sebelum memulai aktivitas itu penting sekali, baik untuk anak juga dewasa.

Foto: freepik.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven − four =