Pentingnya Gizi untuk Tumbuh Kembang Anak (3)

 Berikut ini zat-zat gizi penting lainnya: 

 Yodium

Yodium digunakan oleh hormon tiroid untuk menghasilkan energi metabolisme di sel otak. Asupan yodium yang rendah selama hamil menginduksi terjadinya kekurangan yodium yang dapat menyebabkan disfungsi otak dan risiko penurunan intelegensia dan retardasi mental.

Nah, pada periode percepatan pertumbuhan di 1000 hari pertama kehidupan, defisiensi yodium memperlambat metabolisme di seluruh sel tubuh, serta menyebabkan kerusakan permanen pada perkembangan otak (retardasi mental yang tidak dapat diperbaiki). Defisiensi yodium tidak hanya menyebabkan satu kelainan saja, tetapi dapat memberikan banyak gejala penyakit.

Bahan makanan sumber yodium adalah dari garam beryodium, makanan laut (kerang, ikan laut), telur, susu, dan keju. Di beberapa negara, asupan yodium yang rendah diperburuk oleh konsumsi beberapa pangan yang mengandung bahan goitrogenik yang menghambat penyerapan yodium, seperti tepung jagung, ubi, sorgum, dll.

 

Zat besi

Zat besi adalah bahan esensial yang merupakan komponen hemoglobin untuk transport oksigen ke jaringan, juga membentuk neurotransmitter dan myelin sel syaraf. Defisiensi zat besi didapatkan pada anak dengan gangguan fungsi atensi atau hiperaktivitas. Kadar zat besi penting untuk perkembangan janin dan berkaitan dengan taraf intelegensi anak.

Anemia pada masa janin berhubungan dengan defisiensi zat besi yang mengganggu perkembangan fungsi kognitif. Anemia defisiensi besi adalah rendahnya kadar hemoglobin yang disebabkan kurangnya besi. Zat besi diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Anemia defisiensi besi terjadi bila asupan besi di sumsum tulang sangat terganggu yang dapat  menyebabkan konsentrasi hemoglobin menurun.

Anemia defisiensi besi pada anak usia sekolah (5-8 tahun) di daerah perkotaan berkisar 5,5%. Di Indonesia, anemia didapati pada 40,5% balita, 47,2% usia sekolah, dan 57,1% remaja putri. Pada anak usia SD yang mengalami anemia defisiensi besi didapatkan taraf intelegensi yang tidak melebihi rata-rata, serta gangguan pemusatan perhatian dan gangguan kognitif terutama dalam bidang matematika.

Defisiensi besi dapat berdampak negatif pada tumbuh kembang anak. Perubahan kognitif dan tingkah laku merupakan gejala yang paling penting dari defisiensi besi. Beberapa gejala defisiensi zat besi dapat timbul tanpa adanya anemia, seperti apatis, penurunan atensi, mudah marah, tidak mampu berkonsentrasi dan kehilangan fungsi memori. Telah terbukti zat besi memodulasi pembentukan otak, termasuk perkembangan fungsi kognitif.

Kekurangan zat besi mempengaruhi fungsi otak melalui dua jalur, yaitu melalui kurangnya suplai oksigen ke otak dan penurunan produksi energi di otak. Rendahnya produksi energi ini, karena terjadi penurunan akvifitas enzim pada metabolisme di sel otak. Defisiensi zat besi selama masa embryogenesis mengganggu proses mielinisasi sel syaraf.

Asupan zat besi dari bahan makanan yang lebih optimal, dapat dilakukan melalui suplementasi ataupun fortifikasi zat besi. Bahan makanan sumber zat besi dalam bentuk siap serap diperoleh dari bahan pangan hewani seperti daging merah, ikan, dan, hati.

 

Selenium dan magnesium

Mineral lain yang juga berperanan di dalam sel syaraf adalah selenium dan magnesium. Defisiensi selenium berhubungan dengan perubahan status emosi. Suplementasi selenium bersama dengan vitamin lain dapat memperbaiki emosi yang labil. Magnesium berperanan penting di dalam metabolisme, khususnya terkait di dalam sel syaraf. Suplementasi seng pada anak dapat memperbaiki kemampuan neurofisiologisnya.

Foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × 3 =