Mau belajar tentang ilmu pengasuhan anak Parenting? Hubungi 0818 074 44 074

Asia Parent Academy ini terbentuk tahun 2017 yang diprakarsai oleh Bunda Lucy dan sekelompok orang tua yang memiliki keprihatinan terhadap perkembangan dan pendidikan anak.

Seperti yang kita ketahui bahwa cara pola asuh jaman OLD pasti berbeda dengan pola asuk jaman NOW. Belum lagi banyaknya kekerasan, pelecehan dan kriminalitas yang terjadi di kalangan anak hingga remaja.

Kok dulu ga ada bentuk kejahatan seperti sekarang yah?

Apa yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia?

Orang tua jaman sekarang menjadi pusing tatkala anak-anaknya stress karena tugas di sekolah, banyak waktu dihabiskan di sekolah, setiap hari harus belajar, mengurangi kesempatan bermain sehingga mulailah muncul kasus tawuran, tidak suka sekolah, bosan belajar, kecanduan games dan masih banyak masalah lainnya muncul hanya dikarenakan tuntutan belajar yang terlalu tinggi tidak sesuai dengan usia anak. Jika anak sudah mulai mengalami kesulitan di satu atau beberapa mata pelajaran, maka orang tua akan mulai bertanya sana sini untuk menentukan kursus mana yang baik untuk meningkatkan hasil ulangan anak,yang berakibat kembali pada kejiwaan si anak, anak menjadi tertekan dengan tuntutan dari sistem pendidikan di Indonesia. Perkembangan yang terjadi di era milenium ini nampak cukup memberikan pengaruh yang signfikan terhadap Pendidikan Nasional di Indonesia. Sekarang, pendidikan di Indonesia tidak hanya dituntut untuk membawa kecerdasan bagi bangsa, namun juga untuk menciptakan manusia yang memiliki kompetensi diri dan bermental pemenang.  Arus globalisasi semakin deras “merasuki” bumi nusantara. Yang menjadi pertanyaan adalah: Bagaimanakah anak-anak Indonesia menyambut ‘tamu’ bernama globalisasi tersebut? Sudahkah mereka memiliki bekal untuk menyongsong masa depannya? Adakah upaya pemberdayaan yang manusiawi untuk mereka ?

Mengapa usaha yang dilakukan para pendidik belum berdampak optimal ? (diambil dari penemuan yang dilakukan selama 8 tahun terakhir berdasarkan kasus anak dan remaja, didukung dengan observasi dengan sekolah dan pola asuh di rumah)

  1. Pendidikan hanya terfokus pada anak
  2. Orang tua hanya menyerahkan masalah anak pada institusi pendidikan
  3. Masalah-masalah di sekolah pada umumnya adalah siswa yang mempunyai perilaku tidak sesuai dengan peraturan. Fokus kelas menjadi lebih banyak pada pelanggaran dan bukan pada ketaatan atau pencapaian prestasi.
  4. Orang tua menyalahkan pihak sekolah jika anak kedapatan melakukan perilaku yang tidak diharapkan
  5. Kerja sama antara sekolah dan orang tua masih terbatas pada pencapaian akademik, dan perilaku buruk yang menghambat pencapaian prestasi baik, bukan pada mencari solusi dan membangun mental anak untuk mencapai prestasi yang baik
  6. Saat ini pihak pendidik maupun orang tua masih merasa pencapaian akademik sebagai yang utama sehingga anak tidak dibekali dengan kemampuan bertahan hidup untuk mencapai tujuan hidupnya
  7. Anak dianggap sebagai korban/victim.
  8. Perbedaan perakuan antara anak yang berprestasi dan anak yang bodoh
  9. Pendidikan terhadap karakter, mental, hanya berfokus pada anak bukan pada guru dan orang tua
  10. Anak-anak hanya tahu belajar dan tidak memahami tujuan dari belajar itu apa

Mengapa belakangan ini masalah di atas muncul dan semakin banyak ?

  • Karena anak berada dalam Survival Mode. Mereka terbiasa menghadapi stres dengan melarikan diri, menyerang atau bahkan melamun (tidak melakukan apapun). Ini terjadi dipengaruhi dengan masa lalu mereka, pola asuh, pola pendidikan di sekolah terdahulu, keyakinan yang menghambat mereka untuk menjadi anak yang berpotensi.
  • Sejak kecil anak sudah diajar untuk mengenakan topeng ketika keluar dari rumah, mengapa? Karena orang tua melakukan demikian, karena gurunya melakukan demikian, dan mereka hanya me model setiap perilaku yang mereka dapat di lingkungannya, oleh karenanya ada istilah “jago kandang”, karena ketika di rumah si anak nakalnya bukan main namun di luar rumah, dia sangat pendiam. Jika ditelusuri ternyata saat di rumah, orang tuanya selalu memarahinya dan saat di luar rumah, orang tua tampak manis. Anak belajar dari melihat dan itu akan terbentuk terus menjadi image diri ketika ia beranjak dewasa. Mereka tidak akan pernah lagi menjadi dirinya sendiri, mereka akan menjadi orang yang disukai orang lain namun itu hanyalah ‘topeng´ yang mereka pakai untuk memanipulasi orang lain.
  • Anak juga tidak pernah diajar untuk menghadapi kenyataan, misalnya ketika dia bermasalah dengan temannya, orang tua membela anaknya padahal anaknya yang salah sehingga muncul pola bahwa setiap bermasalah, orang tua akan membela dia. Anak tidak memahami tentang nilai kehidupan bukan karena orang tua atau guru tidak mengajarinya namun mereka melihat pola yang berbeda antara apa yang diajarkan dan perilaku yang diterapkan sehari-hari yang mereka lihat, bahkan bukan hanya melihat tetapi secara unconsciously diaplikasikan dalam diri mereka.
  • Anak juga tidak diajar tentang tujuan hidup dan tidak emmahami value tentang kehidupan sehingga mereka berjalan sesuai dengan apa yang harus mereka jalani sehari-hari dan hanya sebatas rutinitas saja. Mereka tidak diberikan kekebasan bereksplorasi sehingga tidak menemukan diri yang sejati.
  • Pada dasarnya, anak-anak sebagai generasi yang unggul tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Suasana penuh kasih sayang, anak diterima sebagaimana adanya, menghargai potensi anak, baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik, semua sungguh merupakan jawaban nyata bagi tumbuhnya generasi unggul di masa yang akan datang. Inilah yang perlu kita persiapkan pada anak-anak guna menyambut masa depan.

Untuk itu tidak heran anak-anak lebih memilih lingkungan yang lebih berperan dalam hidup mereka, lingkungan yang menghargai, lingkungan yang membentuk self esteem mereka, mereka menemukan diri dan rasa percaya diri karena lingkungan selalu menerima mereka. Inilah awal dari pembentukan mental anak bangsa. Ketika cinta kasih dan contoh yang positif tidak lagi mereka dapatkan di rumah dan lingkungan sekolah, maka mereka akan mencari lingkungan yang dapat menerika mereka apa adanya.

Parent Academy hadir memberikan edukasi kepada guru, orang tua maupun anak didik tentang pentingnya membentuk nilai-nilai yang mendukung anak mencapai potensi terbaiknya.

Ingin bergabung bersama orang tua di Asia ?

Klik Link :

https://bit.ly/2QtRJCL

Jika Anda mau mengetahui tentang e-course dan e-learning kami, dapat menghubungi : 0818 074 44 074