Pahami Psikologi Perkembangan Anak Sejak dalam Kandungan Hingga Usia 5 tahun

Saat pembuahan kedua pihak (ovum dan sperma) terjadi ketika keduanya atau salah satu orang tua memiliki emosi negatif, maka ketika terjadi pembuahan anak akan membawa emosi itu sepanjang hidupnya. Maka dapat dimaklumi ada orang tua yang tipe masochist atau sadistik dan memaksa istrinya melakukan hubungan, lalu anak yang lahir memiliki sifat emosional yang tinggi. Adanya salah satu pihak yang tidak siap atau terpaksa berhubungan akhirnya menciptakan keturunan dari emosi genetik yang kurang baik.

Sama seperti halnya dengan orang tua yang tidak peduli pada kebersihan (jorok) maka anak sering sakit-sakitan, atau mungkin juga karena DNA-nya yang kurang bersih dari orang tua yang tidak memperhatikan makanan, maka anak menjadi lesu atau tampak seperti kurang gizi hingga sangat rentan terhadap berbagai serangan penyakit.

Bagi yang ingin merencanakan kehamilan, relaksasi sebelum berhubungan sangat disarankan untuk menjaga kualitas buah hati. Hal kedua yang penting adalah ketika seorang anak menjadi juara dan berada dalam kandungan ibunya yang perlu dilakukan pertama kali adalah komunikasi, biarkan anak memahami apa yang Anda rasakan dan yang terjadi di luar dirinya lewat komunikasi.

Banyak kasus orang yang setelah dewasa yang sangat emosional tidak terkendali, setelah dilakukan hypnotherapy dan regresi, mundur pada kejadian pertama kalinya, maka didapatlah sebuah kesimpulan bahwa ketika di dalam kandungan dia merasa tidak dicintai karena Ayahnya sering memarahi Ibunya.

Apa hubungannya dengan anak yang dikandung? Ketika Ayahnya memarahi Ibunya, ibunya tidak pernah mengkomunikasikan ke janin dalam kandungannya bahwa itu bukan tentang dia, bahwa Ayahnya bukan memarahi dia. Ada ibu yang datang untuk konsultasi karena anaknya seringkali emosi dan membuat ibunya keluar masuk rumah sakit dengan berbagai penyakit, setelah dicek ternyata saat dalam kandungan, mamanya mengalami panik yang luar biasa. Dan masalahnya adalah mamanya tidak pernah menceritakan itu kepada anaknya atau setidaknya membuat diri tenang agak janin yang di dalam kandungan juga merasa tenang.

Menjalin komunikasi pada bayi tidak harus menunggu sampai dia lahir. Sejak masih di dalam rahim pun, janin sudah bisa diajak ‘belajar’ oleh orangtuanya. Ia akan menunjukkan kemampuan kecerdasan ganda  pada usia sekolah.  Dengan  mengajaknya berkomunikasi saja, Anda sudah mengajarkan banyak hal.

Yang kedua, banyak ibu malas bergerak, karena banyak alasan. Misal karena pendarahan disuruh bed rest, karena kandungan lemah, karena kegendutan dan alasan lainnya padahal selama ibu tidak bergerak ini, refleks bayi dalam kandungan juga banyak yang terganggu, dia juga jadi malas bergerak. sering kali ibu beralasan, malas bergerak karena bawaan bayi. Janin yang sempurna itu bergerak sesuai dengan tahapan perkembangan di dalam rahim namun terkadang stimulasi di luar yang membuatnya menjadi diam di dalam dan malas bergerak.

Ada banyak refleks yang berkembang saat bayi berada di dalam kandungan. Misal refleks moro dimana ketika anak kaget karena sesuatu dari luar dirinya membuat refleks tertentu dalam perut, sementara ibu hanya tahu “oh bayi saya menendang.”

Ketika anak kaget dia akan bereaksi maka banyak anak yang mudah stres, takut, panik hanya karena di dalam kandungan dia mengalami banyak kejutan. Atau akibatnya juga pada anak yang oversensitif terhadap bunyi atau suara keras

Seorang bayi di dalam kandungan yang berusia 3 bulan sudah mulai mempunyai perasaan. Perasaan dimana dia sudah mengetahui bagaimana rasanya senang, sedih dan takut. Kemudian pada saat bayi tersebut berusia 4 bulan dalam kandungan, dia sudah mulai belajar mendengarkan suara dari luar, bahkan dia lama kelamaan akan dapat membedakan mana suara ibunya, ayahnya, orang dekatnya maupun orang yang asing dan juga suara dari benda dan aktifitas atau peristiwa yang terjadi di luar rahim.

Suara dari luar ini akan terus merangsang organ indera bayi tersebut di dalam kandungan sekaligus juga akan mendorong pertumbuhannya dan terbukti bahwa hal ini mempunyai peran yang sangat penting juga bagi pertumbuhan intelegensia sang bayi tersebut. Hal ini jugalah yang kemudian mendasari teknik bagaimana merangsang otak dan intelegensia sang bayi melalui cara memperdengarkan bayi tersebut dengan musik-musik klasik.

Nah makanya kebanyakan orang yang saya terapi itu banyak kembali ke usia 4-5 bulan dalam kandungan karena mereka sudah merasakan dan bahkan melihat apa yang terjadi di luar perut mamanya. Sanking kerennya pikiran bawah sadar maka si anak bisa liat ketika mamanya lagi duduk, dimana dia duduk, apa yang dilakukan papanya dan seterusnya.

Pada dasarnya cortex cerebral (bagian dari otak yang sangat penting dalam proses untuk mengingat, memperhatikan, menyadari, berpikir, mengerti bahasa dan lain sebagainya) bayi dalam kandungan sudah terbentuk pada usia kehamilan 5-6 bulan. Nah, apabila pada masa ini diperdengarkan musik ataupun dilakukan pemijatan lembut pada bagian perut ibu, maka hal ini akan dapat membantu dalam proses peningkatkan pertumbuhan intelegensia sang anak.

Jadi, pada saat kandungan itu telah berusia lima bulan (setara dengan 20 minggu kehamilan), kemampuan bayi di dalam kandungan untuk merasakan stimulus, telah berkembang dengan cukup baik sehingga proses pendidikan dan belajar di saat bayi masih berada di dalam kandungan dapat dimulai atau dilakuk. Adapun emosi dari seorang ibu yang sementara mengandung, akan sangat dipengaruhi dan dapat tercipta melalui cara ia merasakan kehamilannya, bagaimana menyusun rencana memandikan bayi, mendekorasi atau mengatur kamar dan tempat tidur bayi, suasana perkawinan yang langgeng saat kehamilannya, pekerjaannya, kesehatan atau apa pun yang dipikirkan dan dikerjakan seorang ibu atau calon ibu. Pemikiran dari seorang wanita hamil merupakan hal utama yang menjadi awal dari munculnya emosi yang sangat berkaitan erat dengan kehamilannya. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi seorang ibu hamil untuk selalu berpikir positif dan selalu berusaha menyeimbangkan pikirannya dengan hal-hal yang baik.

Emosi adalah titik awal dari bereaksinya hormon terhadap sel saraf yang akan disalurkan kepada bayinya. Saat seorang ibu hamil merasakan kegelisahan, tertekan atau ketakutan, hormon stres dengan sendirinya akan mengalir melalui aliran darah dan mengenai plasenta sang bayi dan kemudian diteruskan kepada bayinya.

Adapun pemikiran negatif seringkali merupakan akar penyebab dari rangkaian reaksi stres yang dipicu oleh karena adanya perasaan takut. Ketika mengalir ke dalam plasenta, hormon dari ibu yang mengalami stres kronis ini akan mengacaukan distribusi aliran darah pada janin, sehingga dapat mengakibatkan perubahan karakteristik psikologi termasuk emosi sang bayi. Stres bisa mengaktifkan sistem kelenjar endokrin dari tubuh sang jabang bayi ini dan tentu saja akan mempengaruhi perkembangan otaknya. Seorang anak yang terlahir dari rahim seorang ibu yang selalu mengalami stres berlebihan semasa kehamilannya, sangat mungkin akan memiliki kelainan perilaku dalam kehidupannya kelak setelah dewasa nanti.

Kebanyakan janin yang ada di rahim ibu sering digambarkan sedang dalam keadaan diam dan tenang saja. Namun pada kenyataannya janin dalam kandungan tidak hanya diam saja sambil menunggu waktunya mereka untuk lahir. Bayi dalam kandungan merasakan jika kehadirannya ditolak. Ada beberapa ibu hamil yang menolak kehadiran bayinya dikarenakan beberapa sebab. Kondisi penolakan ibu hamilterhadap kehadiran bayinya seperti ini juga dapat dirasakan oleh janin dan bisa mempengaruhi pertumbuhannya.

Banyak anak remaja yang mengalami sakit lupus, kanker dan lain-lain hanya karena ibunya menolak ketika dalam kandungan, berusaha menggugurkannya, atau emosi sampai loncat-loncat. Kebencian dengan suami membuat dia benci anak yang sedang dikandungnya. Apa hubungannya?

Hubungannya adalah karena emosi ibu yang negatif terkoneksi dengan perilaku ayah dan akibat terburuknya koneksi itu dirasakan oleh anak yang di dalam kandungan. Lebih tragisnya, ibu tidak memahami ini sehingga munculnya kondisi emosi, perilaku bahkan sakit penyakit anak setelah dewasa hanya gara2 hal ini yang tidak dibereskan. Tampaknya sepele tapi berpengaruh besar pada kondisi kejiwaan dan fisik anak di kemudian hari

Bayi di dalam kandungan merasa stres. Stres adalah hasil dari sebuah stimulus yang sangat besar. Tidak hanya terjadi pada orang de-wasa, bayi juga juga bisa merasa stres, bahkan sejak berada di dalam kandungan ibunya. Stres ketika bayi masih berada di dalam kandungan tidak dapat dilepaskan dari stres yang dialami oleh sang ibu.

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa semakin tinggi usia kandungan seorang ibu, maka hormon stres juga semakin meningkat. Perubahan hormon tersebut kemudian turut masuk ke dalam plasenta kemudian akhirnya dapat mempengaruhi janin. Pentingnya memperhatikan emosi, menjaga komunikasi dengan diri sendiri (dalam bentuk self talk), menjaga komunikasi dan hubungan baik dengan semua orang termasuk suami, memperhatikan adanya refleks bayi dalam kandungan yang berkembang sehingga membuat para mama nanti ketika merencanakan kehamilan berikutnya bisa lebih waspada, siaga dan memahami setiap detiknya kehidupan anak dalam rahim. Ini namanya Mindful Awareness. Benar-benar peduli dan tingkatkan kewaspadaan terhadap bayi yang sedang di dalam kandungannya.

Sebuah penelitian menunjukkan morning sickness bukan hanya karena perubahan hormon namun  juga karena adanya disconnect bayi dan ibu atau ibu ke bayi, ini dimungkinkan saja terjadi. Maka yang paling penting adalah kesiapan mental lebih dari segalanya bukan hanya karena ingin memiliki anak semata lalu sulit memantau perkembangannya. Awareness dan notice (observasi mendalam) dibutuhkan walaupun kita tidak bisa melihat wujudnya secara kasat mata

Bagaimana caranya? Mudah saja, hanya perhatikan emosi Anda, jaga agar terus dalam kondisi yang stabil dan tingkatkan hormon dopamin Anda supaya rasa senang bisa Anda miliki

Ketika seorang ibu hamil mengalami goncangan dalam dirinya, akan berpengaruh pada tumbuh kembang anaknya, karena refleks tumbuh kembang anak dipengaruhi saat dia dalam kandungan 80 % sisanya lingkungan. Kurangnya stimulasi pada anak sejak dalam kandungan dan emosi orang tua pasti berpengaruh terhadap emosi anak. Koneksi antara orang tua dan anak yang salah saat dalam kandungan bisa dikoreksi dengan koneksi orang tua dengan anak saat dia sudah lahir.

Selama masa kehamilan atau mengasuh anak bahagia adalah yang sangat penting. Bahagia itu diciptakan mam.. contoh sederhana, coba kita akses pengalaman paling membahagiakan dalam hidup kita.  Kemudian coba diperbesar sensasi rasa bahagianya, maka itu membuat relaks. Kemudian buat anchoring berupa kepalkan tangan supaya ketika nanti ibu mengepalkan tangan langsung bisa kembali ke kondisi bahagia dengan begitu semua hormon bahagia berproduksi. salah satu cara lain adalah berpura-pura bahagia, karena otak tidak memahami kepura-puraan, maka saat pretend play bersama anak sangat bermanfaat untuk meningkatkan rasa senang.

Tekanan saat hamil itu memunculkan tembok pertahanan yang kalau tidak dihancurkan makin lama makin tebal dan membuat kita tidak terkoneksi dengan rasa sakit itu karena sudah biasa. Begitu pula dengan anak yang hidup di dalam luka ibunya membuatnya menjadi anak yang terluka saat nanti dia bertumbuh, dia akan  lebih mudah stres dan sulit berinteraksi dengan orang lain karena adanya dinding tebal yang mamanya bangun saat dalam kandungan.

Ada namanya predominal schizophrenia yang biasa terjadi pada usia remaja. schizophrenia terjadi akibat kerusakan pada otak reptil, jadi harus diperbaiki mulai dari refleks basic yang terganggu dan kalau ada faktor genetic. yang kedua, setelah dia dewasa tidak ada yang memberitahu, bisa tahu dengan proses hypnosis atau emotion code, dicek emosinya

Intinya antara hati orang tua dan hati anak terkoneksi satu sama lain. Jika ada dinding yang tebal dan di dalamnya ada emosi tertentu membuat anak terjebak di dalam emosi yang dibawa oleh ayah dan ibunya. Setiap malam setidaknya Me Time untuk relaksasi dan melepas semua rasa dan emosi negatif. Karena ketika kita memiliki kekhatiran walaupun kita tak cerita ke anak, dia akan tetap merasakan rasa yang dirasakan ibunya.

foto: unsplash.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 + 3 =