Pahami Perkembangan Anak Usia 6-12 Bulan

Tak sedikit orangtua yang belum memahami bagaimana perkembangan anak usia 6-12 bulan dan bagaimana refleks yang berkembang di rentang usia ini. Nah, berikut ini uraian selengkapnya seperti dipaparkan Bunda Lucy.

 A. Perkembangan kognitif (Piaget)

  1. Tahap sensori motor (0-2 tahun)

Anak memiliki kemampuan mengasimilasi dan mengakomodasi informasi dengan cara melihat, mendengar, menyentuh dan aktivitas motorik. Semua gerakan akan diarahkan ke mulut dengan merasakan keingintahuan sesuatu dari apa yang dilihat, didengar, disentuh dll.

2. Tahap praoperasional ( 2-7 tahun)

Anak belum mampu mengoperasionalkan apa yang dipikirkan melalui tindakan dalam pikiran anak, perkembangan anak masih bersifat egosentris. Pada masa ini pikiran bersifat transduktif menganggap semuanya sama, misal semua pria dikeluarga adalah ayah maka semua pria adalah ayah. Selain itu ada pikiran animisme, yaitu selalu memerhatikan adanya benda mati. Seperti anak jatuh dan terbentur batu, dia akan menyalahkan batu tersebut dan memukulnya

3. Tahap kongret (7-11 tahun)

Anak sudah memandang realistis dari dunianya dan mempunyai anggapan yang sama dengan orang lain, sifat egosentrik sudah hilang, karena anak sudah mengerti tentang keterbatasan diri sendiri. Anak sudah mengenal konsep tentang waktu dan mengingat kejadian yang lalu. Pemahaman belum mendalam dan akan berkembang di akhir usia sekolah (masa remaja).

4.Tahap formal operasional ( > 11 tahun)

Anak remaja dapat berpikir dengan pola yang abstrak menggunakan tanda atau simbol dan menggambarkan kesimpulan yang logis. Mereka dapat membuat dugaan dan mengujinya dengan pemikirannya yang abstrak, teoritis dan filosofis. Pola berfikir logis membuat mereka mampu berpikir tentang apa yang orang lain juga memikirkannya dan berpikir untuk memecahkan masalah.

 B.Perkembangan psikoseksual anak (Freud)

1.Tahap oral (0-1 tahun)

Pada masa ini kepuasan dan kesenangan, kenikmatan dapat melalui dengan cara menghisap, menggigit, mengunyah atau bersuara, ketergantungan sangat tinggi dan selalu minta dilindungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang diperoleh pada tahap ini adalah menyapih dan makanan.

2.Tahap anal (1-3 tahun)

Kepuasan pada fase ini adalah pada pengeluaran tinja. Anak akan menunjukkan keakuannya dan sikapnya sangat narsistik yaitu cinta terhadap dirinya sendiri dan sangat egosentrik, mulai mempelajari struktur tubuhnya. Masalah pada saat ini adalah obesitas, introvet, kurang pengendalian diri dan tidak rapi.

3.Tahap oedipal/phalik ( 3-5 tahun)

Kepuasan pada anak terletak pada rangsangan autoerotik yaitu meraba-raba, merasakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya, suka pada lain jenis. Anak laki-laki cenderung suka pada ibunya dan anak perempuan cenderung suka pada ayahnya.

4.Tahap laten ( 5-12 tahun)

Kepuasan anak mulai terintegrasi, anak masuk dalam fase pubertas dan berhadapan langsung pada tuntutan sosial seperti suka hubungan dengan kelompoknya atau sebaya, dorongan libido mulai mereda.

5.Tahap Genital ( > 12 tahun)

Kepuasan anak pada fase ini kembali bangkit dan mengarah pada perasaan cinta matang terhadap lawan jenis.

C. Perkembangan psikososial (Erikson)

1.Tahap percaya tidak percaya (0-1 th)

Bayi sudah terbentuk rasa percaya kepada seseorang baik orang tua maupun orang yang mengasuhnya ataupun tenaga kesehatan yang merawatnya. Kegagalan pada tahap ini apabila terjadi kesalahan dalam mengasuh atau merawat maka akan timbul rasa tidak percaya.

2.Tahap kemandirian, rasa malu dan ragu (1-3 tahun)

Anak sudah mulai mencoba dan mandiri dalam tugas tumbuh kembang seperti kemampuan motorik dan bahasa. Pada tahap ini jika anak tidak diberikan kebebasan anak akan merasa malu.

3.Tahap inisiatif, rasa bersalah (4-6 tahun)

anak akan mulai inisiatif dalam belajar mencari pengalaman baru secara aktif dalam aktivitasnya. Apabila pada tahap ini anak dilarang akan timbul rasa bersalah.

4.Tahap rajin dan rendah diri (6-12 tahun)

Anak selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkan atau prestasinya sehingga anak pada usia ini adalah rajin dalam melakukan sesuatu. Apabila pada tahap ini gagal anak akan rendah diri.

5.Tahap identitas dan kebingungan peran pada masa adolesence, anak mengalami perubahan diri, perubahan hormonal.

6.Tahap keintiman dan pemisahan terjadi pada masa dewasa yaitu anak mencoba melakukan hubungan dengan teman sebaya atau kelompok masyarakat dalam kehidupan sosial.

7.Tahap generasi dan penghentian terjadi pada dewasa pertengahan yaitu seseorang ingin mencoba memperhatikan generasi berikutnya dalam kegiatan aktivitasnya.

8.Tahap integritas dan keputusasan terjadi pada dewasa lanjut yaitu seseorang memikirkan tugas-tugas dalam mengakhiri kehidupan.

 

C. Perkembangan kognitif

Anak mempunyai kemampuan dalam mengasimilasi dan mengakomodasi informasi dengan cara melihat, mendengar, menyentuh dan aktivitas motorik. Semua gerakan akan diarahkan ke mulut dengan merasakan keingintahuan sesuatu dari apa yang dilihat, didengar, disentuh dll.

D. Perkembangan psikoseksual

Pada masa ini kepuasan dan kesenangan, kenikmatan dapat melalui dengan cara menghisap, menggigit, mengunyah atau bersuara, ketergantungan sangat tinggi dan selalu minta dilindungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang diperoleh pada tahap ini adalah menyapih dan makanan.Kegiatan yang dilakukan anak seputar oral untuk mendapatkan rasa aman

E. Perkembangan psikososial

Bayi sudah terbentuk rasa percaya kepada seseorang baik orang tua maupun orang yang mengasuhnya ataupun tenaga kesehatan yang merawatnya. Kegagalan pada tahap ini apabila terjadi kesalahan dalam mengasuh atau merawat maka akan timbul rasa tidak percaya.

Rasa percaya diri yang dibangun oleh seorang anak yang baru lahir adalah dari orang tuanya, oleh karenanya memberi ASI adalah salah satu menumbuhkan rasa percaya kepada bayi karena membangun bonding dengan anak.

 

Refleks pertama bayi baru lahir

Cara pertama untuk belajar mengontrol tubuh agar dapat menjaga keseimbangan pada gravitasi adalah dengan mengontrol kepala. Dengan gerakan-gerakan ritmis bayi yang secara spontan dilakukan oleh bayilah maka bayi dapat belajar untuk mengontrol tubuhnya dan menjaga keseimbangannya pada medan gravitasi.

Tanpa kontrol kepala yang baik, akan muncul stimulasi yang kurang efisien dari indra keseimbangan / vestibular dan akan ada tonus otot yang lemah, postur bungkuk, dan daya tahan yang buruk. Pada kasus-kasus ekstrim, seorang anak yang tidak belajar untuk mengangkat kepalanya akan menjadi tidak berdaya di lantai.

Lihatlah bagaimana anak belajar untuk menyempurnakan panca inderanya, mengangkat kepala, belajar bubbling, mendengar sekitarnya, bergurau dan menumbuhkan rasa percaya kepada orang di sekitarnya.

 

Ingat bahwa ketika mereka bergerak, mereka sedang membangun sinaps di otaknya. Oleh karenanya jika ada anak yang dibatasi bergerak, misal , “Jangan naik tangga Dek, nanti jatuh. Jangan main di tanah, nanti tanganmu kotor banyak kuman, jangan ke pojok situ, ada setannya” dan berbagai doktrin dan larangan yang bertubi-tubi.

Saat itu juga Anda sedang mematikan neuron dalam otak anak sehingga banyak yang tidak berfungsi. Maka mulailah timbul anak dengan sensori yang kurang bagus, misal terlambat jalan, namun satu hal yang perlu diteladani bahwa anak itu tidak pernah putus asa untuk belajar walaupun ketika doktrin salah itu sudah menguasai diri anak, dia tetap belajar walau dengan cara yang salah. Mencoba itu merupakan suatu pembelajaran. Jadi jangan pernah melarang anak untuk melakukan apapun yang ia sedang lakukan karena sebenarnya dia sedang membangun jembatan informasi di otaknya.

 

Pentingnya Kematangan dari Refleks-refleks Primitif

Jika seorang bayi tidak dapat menginhibisi refleks-refleks primitifnya, refleks-refleks tersebut akan :

  • Menghambat kemampuan motoriknya
  • Membuat otak lebih susah untuk matang

 

Bayi yang belum mempunyai refleks-refleks yang telah berkembang penuh saat kelahiran akan:

  • Lebih kesulitan untuk menginhibisi dan mengintegrasikan refelks-refleks tersebut pada waktu yang tepat.

Hal ini terutama tepat untuk bayi prematur dan bayi yang dilahirkan lewat operasi caesar.

Bayi-bayi prematur:

  • Beberapa refleks primitif mungkin belum berkembang ketika mereka dilahirkan
  • Dalam sebuah incubator, bayi tidak mendapat stimulasi dari indra taktil, keseimbangan, dan kinestesis seperti di dalam Rahim
  • Hal ini akan menghambat kematangan dari refleks-refleks primitif

 

Jika ibu dari bayi tersebut membawa-bawa bayi prematur tersebut di dalam kantong pada dadanya, bayi tersebut akan mendapatkan stimulasi yang sama seperti di dalam uterus yang membantu kematangan dan integrasi dari refleks-refleks primitif dan memperbaiki tonus otot serta membantu menghubungkan tingkat-tingkat otak yang berbeda.

 

Bayi-bayi Caesar.

  • Tidak mengalami proses persalinan yang normal dan dengan demikian tidak mendapat stimulasi yang penting untuk mematangkan refleks-refleks.

 

Bayi-bayi prematur dan bayi-bayi yang dilahirkan lewat operasi caesar.

  • Mempunyai resiko yang lebih besar untuk tetap mempertahankan refleks-refleks primitif mereka sampai masa dewasa
  • Memiliki masalah dengan kemampuan motorik
  • Mempunyai kesulitan dalam memperhatikan, konsentrasi, dan belajar

 

Berbagai Efek Gerakan terhadap PerilakuMenstimulasi untuk :

  • Membangun jarring-jaring saraf pada batang otak, otak kecil, basal ganglia, dan neokorteks agar berkembang
  • Meningkatkan kemampuan untuk memperhatikan dan konsentrasi
  • Mengurangi sifat hiperaktif dan impulsif

 

Menambah tonus otot dari otot ekstensor yang membuat punggung lurus dan menahan kepala pada posisi tegak lurus :

  • Memperbaiki postur tubuh, pernapasan, dan daya tahan

 

Neokorteks akan terstimulasi lewat batang otak :

  • Meningkatkan kemampuan untuk memperhatikan dan konsentrasi

 

Menstimulasi otak kecil da jalur-jalur sarafnya ke korteks prefrontal :

  • Meningkatkan kemampuan untuk memperhatikan dan konsentrasi
  • Mengurangi sifat impulsif

 

Menstimulasi basal ganglia agar matang dan mengintegrasikan refleks-refleks primitif :

Memudahkan anak untuk mengatur tingkat aktivitasnya dan menjadi tenang.

 

Jenis-Jenis Refleks Pada Bayi

Berikut ini beberapa jenis refleks yang dimiliki bayi baru lahir:

  1. Root reflex (refleks mencari puting)

Pemicu root reflex adalah sentuhan lembut pada pipi bayi baru lahir. Bayi menuju ke arah sentuhan dengan mulut terbuka. Refleks ini muncul saat lahir dan berlangsung hingga bayi berumur 3 sampai 4 bulan (kadang bayi terus melakukan root reflex saat tidur setelah usianya lewat 4 bulan). Refleks ini membantu bayi menemukan makanan.

 

Bayi yang lahir prematur atau memiliki gangguan neurologikal atau CNS depression karena obat tertentu yang dikonsumsi ibu selama hamil kemungkinan tidak memiliki refleks rooting. Refleks rooting membantu bayi bersiap untuk menghisap.

 

Refleks mencari puting yang terus-menerus bisa memicu gejala berikut:

o          Area mulut dan bibir yang sangat sensitif

o          Kesulitan mengunyah atau menelan

o          Menunjukkan gejala rewel ketika makan (terutama makanan padat)

o          Masalah bicara dan artikulasi

o          Sering menghisap jari

 

  1. Refleks menghisap

Refleks ini dipicu oleh puting payudara, botol susu, atau jari orangtua, yang menyentuh bagian atas mulut bayi. Sebagai responnya, bayi menghisap puting. Refleks ini muncul saat lahir dan berlangsung hingga bayi berusia 2 sampai 4 bulan.

 

Refleks menghisap tidak sepenuhnya berkembang hingga kehamilan 36 minggu, yang berarti bayi prematur bisa memiliki kemampuan menghisap yang lemah atau belum matang. Bila bayi Anda lahir prematur, ia kemungkinan mengalami beberapa masalah yang berkaitan dengan kemampuan menghisap, antara lain:

o          Gerakan atau bentuk lidah yang tidak sama

o          Pola menghisap yang tidak teratur dan tidak efisien

o          Kunci bibir lemah

o          Stabilitas yang lemah pada pipi bagian dalam

o          Kesulitan mensinkronkan hisapan dan menelan dengan bernafas.

 

Komplikasi lain yang bisa terjadi pada bayi prematur adalah Infant Respiratory Distress Syndrome (RDS). Bayi dengan RDS kesulitan mensinkronkan hisapan, menelan, dan bernafas dan ini bisa berdampak negatif pada menyusui karena bayi tidak bisa lama menyusu dan mudah lelah, sehingga ia berisiko mengalami nutrisi buruk.

 

  1. Refleks Babinski

Refleks ini dipicu oleh sentuhan lembut pada telapak kaki (dari tumit sampai jari kaki). Refleks ini muncul saat lahir dan berlangsung hingga bayi berusia 6 sampai 24 bulan. Refleks Babinski jadi refleks bayi yang utama, yang diambil dari nama Joseph Babinski, yang pertama kali menggambarkan tanda Babinski pada tahun 1896. Refleks ini terjadi karena kontraksi otot yang memicu bayi membuka jari keluar sebagai respon terhadap rangsangan pada telapak kaki.

 

Ketika memeriksa refleks ini, dokter akan membaringkan bayi di tempat tidur, memegang kakinya dan menggunakan alat untuk mengegelitik telapak kaki. Anak yang normal akan segera merespon dengan menggerakkan ibu jari dan jari lain ke arah luar. Refleks ini perlahan menghilang pada usia 12 bulan atau saat anak berumur dua tahun, ketika sistem saraf pusat sudah matang.

 

Refleks Babinski memberi stabilitas pada tubuh bayi, mempersiapkan kakinya untuk melakukan langkah pertama. Refleks Babinski bahkan mema…

 

Refleks Babinski memberi stabilitas pada tubuh bayi, mempersiapkan kakinya untuk melakukan langkah pertama. Refleks Babinski bahkan memastikan koordinasi yang tepat antara pinggang bawah tungkai dan tulang belakang. Ketika bayi baru lahir tidak memiliki refleks Babinski, berarti sistem saraf pusat belum matang sepenuhnya atau ada masalah pada sumsum tulang belakang.

 

Bila anak terus memiliki refleksi ini setelah mencapai usia dua tahun, ia akan kesulitan menapakkan kaki di tanah. Anak juga kesulitan menyeimbangkan diri karena jari kaki selalu ke arah luar, membuatnya bermasalah ketika berjalan. Refleks Babinski yang berlanjut bisa menyebabkan masalah berikut:

o          Berjalan dengan berjinjit

o          Mata kaki lemah

o          Kaki datar

o          Sulit memusatkan perhatian atau berkonstentrasi.

 

Anak yang terdeteksi cerebral palsy atau hemiplegia (lumpuh tubuh sebagian) akan mengalami kembali refleks ini. Bayi yang mengalami autisme juga memiliki refleks Babinski berkepanjangan.

 

  1. Refleks berjalan

Refleks berjalan dipicu oleh memegang bayi di posisi tegak dengan telapak kaki datar pada permukaan. Bayi merespon dengan mengangkat satu kaki dan kaki lainnya seolah seperti berjalan. Refleks ini muncul saat lahir dan berlangsung hingga usia anak 2 bulan. Refleks ini mempersiapkan perkembangan bayi untuk berjalan pada beberapa bulan dari sekarang.

 

  1. Refleks leher

Refleks ini dipicu oleh berbaring telentang dengan kepala menoleh ke satu sisi. Bayi merespon dengan lengan pada sisi tersebut membuka, sedang lengan lainnya menekuk di siku. Refleks ini muncul antara waktu lahir hingga ketika bayi berusia 2 bulan dan berlangsung hingga bayi 4 sampai 6 bulan. Refleks ini membantu mempersiapkan perkembangan bayi yang akan dicapai nantinya.

 

  1. Refleks menggenggam (palmar grasp)

Palmar grasp dipicu oleh tekanan oleh satu jari atau objek lain, seperti mainan, pada telapak tangan bayi. Bayi merespon dengan mengepalkan tangan dan mencoba meraih jari atau benda. Refleks ini muncul saat lahir dan berlangsung hingga bayi berumur 3 sampai 6 bulan.

Bunda, Anda bisa mencoba mencari tahu semua refleks ini pada si kecil, tapi jangan cemas bila bayi tidak menunjukkan respon yang seharusnya, Anda mungkin tidak melakukan stimulus dengan baik atau bayi terlalu letih atau lapar untuk meresponnya. Bila Anda mencoba beberapa kali tanpa mendapat hasil yang diinginkan, periksakan si kecil ke dokter anak.

 

  1. Refleks Moro (refleks terkejut)

Sebagian bayi kadang terkejut sebagai respon untuk suara bising, gerakan tiba-tiba, atau sensasi terjatuh ketika Anda meletekkan tubuh bayi di tempat tidur. Bayi akan mengencangkan tubuh, merentangkan lengan, membuka telapak tangan yang biasanya mengepal, menarik lutut, lalu kembali mengepalkan tangan, dan lengannya mendekat ke tubuh, seperti memberikan pelukan untuk dirinya sendiri.

 

Refleks Moro menjadi usaha pertama bayi untuk melindungi dirinya dari bahaya. Refleks ini muncul sejak bayi lahir. Ketika usia bayi sekitar 6 minggu, ia mulai menyesuaikan diri dan merasa lebih aman dengan lingkungannya. Refleks terkejutnya akan menurun dan perlahan hilang ketika ia mencapai usia 4 sampai 6 bulan. Bila bayi terkejut hingga terbangun, coba bedo lebih aman.

 

Kondisi abnormal pada refleks Moro biasanya diketahui oleh dokter anak. Tapi bila Anda melihat sesuatu yang tidak wajar, segera hubungi dokter. Bila bayi tidak bereaksi, ini bisa berarti terjadi kerusakan pada otak, sumsum tulang belakang, atau cedera lain. Dokter akan melakukan tes untuk mengetahui apa yang terjadi.

 

Ketika refleks Moro terjadi, bayi mengalami dua fase reaksi. Fase pertama, bayi akan mengalami seperti yang digambarkan sebagai sensasi jatuh bebas, dimana bayi bereaksi dengan mengangkat dan merenggangkan lengan dan bahkan menghembuskan nafas. Di fase kedua, bayi akan menekuk lengan dan kaki dekat ke tubuhnya.

 

Refleks Moro terjadi untuk melindungi bayi baru lahir di tahap awal perkembangan bayi. Refleks ini bertindak sebagai alarm yang dipicu ketika bayi menerima informasi berlebih atau mendadak melalui indera.

 

Respon tahap pertama membantu bayi bereaksi pada stimuli yang tidak menyenangkan. Fase kedua membantunya lekat pada siapapun yang dekat, seperti ibu, sebagai cara untuk melindungi diri dari terjatuh. Dua respon ini secara instink melindungi anak dari bahaya apapun yang terkait dengan rangsangan.

 

Saat lahir semua bayi memiliki sistem saraf yang masih berkembang. Satu tanda perkembangan bayi sedang terjadi adalah ia mudah terkejut hingga usia 4 sampai 6 bulan ketika mengalami sensasi dunia baru yang tidak ia alami ketika ada di rahim.

 

Pemicu Refleks Moro

Refleks Moro dipicu oleh perubahan mendadak pada stimulasi indera. Ada banyak pemicunya tapi yang utama antara lain:

  • Suara bising
  • Sentuhan mendadak
  • Perubahan pada intensitas cahaya yang mendadak
  • Kejadian yang membuat bayi tidak seimbang seperti ketika ditempatkan di tempat tidur.

 

Ketiadaan refleks Moro bisa mengindikasikan masalah pada sistem saraf bayi. Masalah ini bisa diperiksa oleh dokter anak selama kunjungan pemeriksaan. Saat lahir dokter akan memeriksa refleks Moro serta refleks lainnya.

 

Bila kehadiran refleks Moro normal, berarti tak ada yang perlu Anda khawatirkan, meski ketika bayi terkejut disertai tangisan yang akan terasa mengganggu bila terjadi selama ia tidur. Bayi yang sedang tenang tidur bisa terbangun dan butuh waktu untuk kembali tertidur sehingga ini mengganggu jadwal Anda juga.

 

Biasanya di usia 6 minggu otot leher bayi semakin kuat dan keseimbangan serta kemampuan untuk menopang diri mulai berkembang. Ini awal dari perkembangan refleks Moro.Di usia 4 sampai 6 bulan, refleks Moro benar-benar hilang. Ini juga menjadi waktu di mana bayi memiliki lebih banyak kontrol pada gerakannya dan ia mulai bisa berguling.

 

Menenangkan Bayi Yang Mengalami Refleks Moro

Bayi yang mengalami refleks Moro akan tenang dengan mudah bila lengannya direnggangkan dan kaki ditarik mendekat ke tubuhnya serta digendong hingga ia tenang. Di sinilah manfaat membedong bayi terlihat. Bedong adalah kain yang membungkus tubuh bayi dan menahan lengan dan tangannya dekat ke tubuh sehingga mencegah bayi terbangun selama terjadi refleks Moro. Bedong juga membantu menciptakan lingkungan yang biasa dirasakan bayi sebelum lahir, yakni di dalam rahim.

 

Tanda Bayi Sudah Terlalu Besar Untuk Dibedong

Kapan waktu yang tepat untuk berhenti membedong bayi? Jawabannya, setelah Anda menemukan tanda transisi bedong pada bayi.

 

Meski waktu tepatnya bisa bervariasi pada tiap bayi, diantara usia 4 hingga 6 bulan bayi akan menunjukkan tanda kalau sudah waktunya berhenti menggunakan bedong. Ketika bayi mulai melakukan hal berikut, jadi petunjuk untuk Anda perlu mulai melakukan transisi dari bedong:

  • Peningkatan aktivitas dan mengeluarkan lengan dari bedong di tengah tidurnya.
  • Mulai berguling karena peningkatan kekuatan lengan dan leher.
  • Sering terbangun di tengah malam setelah sebelumnya tidur dengan tenang.
  • Terlalu banyak bergerak sehingga tidak bisa dibedong sepanjang malam.
  • Melawan ketika dibedong dan ingin satu atau dua lengan tidak dibedong.
  • Penurunan atau tidak ada lagi refleks Moro.

 

Setelah tahu waktu untuk berhenti membedong, penting untuk Anda membuat perencanaan agar proses transisi dari bedong jadi mudah. Untuk memandu Anda, berikut ini langkah sederhana yang bisa Anda ikuti tiap hari untuk berhasil melewati transisi dari membedong ke selimut bedong (wearable blanket) dalan sekitar 7 hingga 10 hari.

 

Berbagai Efek yang Timbul karena Terhambatnya Kebebasan Bayi untuk Bergerak

Adalah normal bagi para orangtua yang ingin membantu mengembangkan kemampuan motorik anak-anak mereka.

 

Dalam hal perkembangan emosi, orangtua dipandu oleh naluri serta pengalaman emosi mereka saat mereka masih anak-anak.

 

Tetapi dalam hal meningkatkan kemampuan motorik anak-anak mereka, orangtua biasanya tidak sadar akan apa yang dibutuhkan bayi pada perkembangan mereka. Alih-alih :

  • Membiarkan bayi mengembangkan kemampuan motoriknya sendiri sesuai kecepatannya sendiri, belajar untuk bangkit dari posisi berbaring ke posisi merangkak dan akhirnya berdiri tegak:

o          Kebanyakan orangtua justru mencoba mempercepat proses perkembangan motorik bayi mereka

  • Membiarkan bayi terlentang di atas lantai dan mengembangkan refleks posturalnya dengan bergerak kesana kemari sendiri

o          Orangtua justru menempatkan bayi mereka pada sebuah baby walker, jok mobil, atau bahkan kereta bayi bahkan jauh sebelum ia dapat duduk sendiri

  • Menyemangatinya untuk berkembang dengan bergerak kesana kemari sebanyak mungkin pada tingkat perkembangannya

o          Orangtua justru menempatkan bayi mereka pada sebuah baby walker jauh sebelum ia siap untuk merangkak atau berjalan

 

Semua aktivitas ini membatasi perkembangan motorik alami dan menghambat koneksi basal ganglia ke atas dan integrasi refleks-refleks primitive. Bayi juga mempunyai resiko terkena ADD/ADHD lebih besar serta kesulitan belajar dan emosi.

 

Jika orangtua ingin membantu anak mereka untuk mengembangkan kemampuan motoriknya, mereka harus mengatur tentang itu dari tingkat perkembangan bayi mereka.

Seorang bayi:

  • Yang tidak dapat duduk, lebih baik dibiarkan berbaring
  • Perlu diizinkan untuk berbaring dengan posisi perut di bawah agar dapat distimulasi untuk mengangkat kepalanya
  • Harus didorong untuk bergerak dengan bebas di lantai

Semua ini secara bertahap akan:

  • Mengembangkan pola-pola gerakan
  • Membantu penguasaan gravitasi, keseimbangan, dan stabilitas
  • Mengintegrasi refleks-refleks primitive

 

Seperti misalnya Tonic Labyrinth Reflex (TLR) merupakan refleks yang dapat dipicu dengan menundukkan kepala bayi ke depan atau mendongakkannya ke belakang secara lembut. Ketika kepala dibengkokkan ke depan, bayi akan berada di posisi seperti fetus dan ketika kepala dibengkokkan ke belakang, bayi akan meluruskan badannya.

 

Untuk anak yang lebih besar serta orang dewasa, merupakan suatu hal yang penting untuk mengecek efek postural dari refleks yang masih aktif.

 

Ketika sebuah refleks masih aktif, seseorang dapat

  • Kehilangan keseimbangan
  • Mulai bergoyang
  • Menegangkan tubuhnya
  • Tidak dapat menahan posturnya dengan mudah untuk waktu yang lama

 

 

Salah satu efek dari primitif refleks yang terganggu, misal anaknya sulit fokus, atau kalau orang dewasa, agresif, impulsif, jalannya kakinya keluar, jalan jinjit, pundak miring sebelah, suka sakit di bagian tulang belakang, tidak bisa duduk tenang, ambisius berlebihan, emosi tak stabil, banyak banget deh jadi udah pasti semua refleks orang terganggu, karena sebenarnya ketika orang stres, otak menjadi tidak dinamis dan membuat refleks pertahanannya menurun dan terganggu.

 

Foto: freepik.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × one =