Pahami Karakter Anak Sulung (1)

“Sebagai anak sulung, Ananda tampak mandiri dan lebih ‘dewasa’ ketimbang anak seusianya. Apakah ini karena ia anak pertama?”tanya seorang ibu.

Beberapa penelitian psikologi menjelaskan bahwa urutan kelahiran berpengaruh terhadap kepribadian, perilaku dan cara belajar individu. Pengaruh tersebut diakibatkan adanya interaksi akibat situasi psikologis yang berbeda pada urutan kelahiran anak.

Hal tersebut juga turut diperkuat oleh budaya kita tentang keyakinan orangtua tentang perbedaan antara anak sulung, anak tengah maupun anak bungsu sehingga terdapat pemberian pola asuh yang berbeda pula dari orangtua. Nah, dari kebiasaan turun-temurun itu, ada pembiasaan-pembiasaan pada anak dari sikap orangtua yang keliru. Misal, orangtua memiliki harapan atau tuntutan yang tinggi terhadap anak sulung. Orangtua menuntut si sulung agar berprestasi. Di sisi lain, anak sulung ini berusaha memenuhi dan mematuhi harapan orangtua sehingga membuat beban tersendiri baginya.

FAKTA KEPRIBADIAN

Ahli Psikologi Alfred Adler banyak menjelaskan keterkaitan urutan kelahiran dengan kepribadian individu serta kedudukan dalam keluarga sangat memengaruhi bagaimana menghadapi permasalahan di masyarakat. Menurutnya, sebagian besar perkembangan anak tergantung pada interaksi dengan saudara-saudaranya, di samping faktor hereditas dan lingkungan lainnya. Dalam posisi urutan kelahiran, anak memiliki tanggungjawab dan konsekuensi yang berbeda, selain disebabkan juga oleh budaya dan sikap orangtua.

Anak sulung lebih berorientasi dewasa, suka menolong, dapat menyesuaikan diri, mudah cemas dan dapat mengendalikan diri dibandingkan saudara-saudaranya yang lahir kemudian. Orangtua memberi lebih banyak perhatian kepada anak sulung. Tetapi beberapa tekanan yang sama dikenakan kepada anak sulung dari pada adik-adiknya untuk berprestasi tinggi. Namun, ia juga memiliki rasa bersalah yang tinggi, cemas, dan sulit mengatasi situasi yang tidak menyenangkan.

Nah, berikut beberapa pendapat di masyarakat terkait si anak sulung:

Hal positif:

Lebih dewasa √

Bertanggung jawab √

Tegas √

Mandiri √

Dapat diandalkan √

Punya jiwa kepemimpinan √

Lebih pintar ketimbang adik-adiknya √

Perhatian tinggi, simpati √

Problem solver,  kompeten √

Kreatif √

Penurut, tidak nakal √

Baik hati, penuh kasih sayang dan selalu berusaha menyenagnkan orang lain √

Perfesionis, teliti terstrutur, penuh hati-hati , akurat, terorganisir √

Bercita-cita tinggi bisa menyusun target dan mencapainya √

Tepat waktu √

 

Hal “negatif”:

Agresif/ suka memaksa √

Rentan stres √

Retan sakit daya tahan tubuh lemah

Suka pilih-pilih √

Suasana hati gampang berubah

Kurang sensitif.

Suka meingitimidasi √

terkesan serba tahu. √

Cenderung bossy dan merasa dirinya selalu benar. √

Jika merasa ditolak, bentuk protesnya adalah melanggar peraturan √

Kurang bisa mendelegasikan tugas karena ingin yakin segalanya dikerjakan dengan benar. √

 

Hal positif dan negatif seperti yang tertulis tersebut adalah merupakan fakta dari kepribadian anak sulung berdasarkan kajian-kajian yang telah dilakukan dalam penelitian.

Anak sulung adalah anak yang paling tua dari suatu keluarga. Pengalaman merawat dan mendidik anak belum banyak dimiliki kedua orangtuanya. Kekurangan pengetahuan dan pengalaman dari orangtua itu membawa dampak tersendiri bagi perkembangan anak. Dengan keterbatasan tersebut membuat orangtua menjadi lebih banyak waktu dan konsentrasi dalam mendidik anak sulung.

Anak sulung terbiasa dengan perhatian dan kasih sayang yang banyak dari orangtua khususnya ibu. Si sulung merupakan terfavorit karena ia satu-satunya anak yang mendapat limpahan kasih sayang. Namun kemudian, anak sulung harus belajar menghadapi kenyataan ketika adiknya lahir.  Fokus utama mereka tak lagi si sulung dan harus membagi perhatian dengan saudaranya yang lain. Perubahan ini mendorong munculnya sifat kemandirian.

Selain itu, si sulung adalah anak yang sangat diharapkan menjadi pengganti orangtua bagi adik-adiknya. Ia dibentuk menjadi orang yang dewasa dan mandiri agar dapat menjadi contoh bagi adik-adiknya. Hal ini membuat anak sulung menjadi individu yang optimis tetapi juga sangat realistis, memiliki target tinggi, memiliki tanggung jawab serta kepercayaan yang tinggi diberikan orangtuanya. Dorongan berprestasi yang tinggi muncul karena ia diharapkan menjadi contoh bagi adik-adiknya.

Foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 11 =