Mengenalkan Uang pada Si Kecil, Begini Caranya

 

Agar seseorang dapat mengelola keuangannya sendiri dengan baik, tentu ia membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang seyogyanya diasah sejak dini.

Banyak orang kemudian bertanya-tanya, sebenarnya pada usia anak berapa tahun sih waktu yang tepat untuk mengajarinya pengetahuan tentang hakikat penggunaan dan pengelolaan keuangan itu sendiri?

Andy Nugroho, CFP, Perencana Keuangan dari MRE Financial & Business Advisory, waktu yang paling tepat mengajari anak tentang pentingnya arti pengelolaan keuangan adalah ketika ia mulai diperkenalkan dengan benda bernama uang. Selain itu, ketika ia mulai mengetahui konsep “berbelanja” atau jajan dalam bahasa mereka, yang bisa jadi ini menjadi bervariasi pada setiap anak.

Mengapa momentum tersebut menjadi penting? Pasalnya, pada saat inilah anak mulai memahami adanya sebuah benda bernama uang yang berfungsi sebagai alat penukar yang ampuh sehingga ia bisa mendapatkan apapun yang diinginkan.

 

AJARI KONSEP UANG

Akan tetapi, di sisi lain, anak kemudian harus mulai diberi pemahaman bahwa si alat penukar yang ampuh ini ternyata tidak bisa datang dan dimiliki begitu saja. bahkan, ia tahu jumlahnya pun terbatas. Maka untuk dapat memilikinya, sang orangtua harus bekerja untuk mendapatkannya.

Nah, dalam mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata, orangtua dapat memberikan pemahaman pada anak tentang konsep tersebut adalah dengan cara memperlihatkan bagaimana ayah dan bahkan ibu harus rela meninggalkan mereka setiap pagi. Lalu, orangtua baru pulang ke rumah pada sore dan malam hari. Itu semua demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan si buah hati.

Kemudian, anak pun diberikan pemahaman bahwa hasil kerja keras tersebut tidak begitu saja dihabiskan secara langsung. Namun, sebagian harus disisihkan atau disimpan. Bahkan, tidak semua keinginannya dapat dipenuhi oleh orangtua.

 

BELAJAR MENGHARGAI

Adapun efek positif dari pemberian pemahaman tersebut adalah anak menjadi lebih menghargai terhadap apa yang ia miliki, dalam konteks ini adalah uang. Kenapa? Karena ia menyaksikan dengan matanya sendiri bahwa butuh sebuah pengorbanan yang kuat untuk bisa mendapatkan uang tersebut.

Lalu, bagaimana bila ternyata anak tidak diberikan pemahaman tentang penggunaan uang yang bijak? Kita perlu tahu, ketika seseorang membelanjakan uang yang dimilikinya biasanya terkait erat dengan yang namanya perasaan. Apalagi bila untuk seseorang yang sayang kita sayangi, tentu perasaan tersebut akan sulit dibendung. Demikian pulalah sikap seorang orangtua terhadap anaknya tersayang, apapun yang anaknya minta bisa jadi akan dituruti.

Nah, hal tersebut ternyata memberikan efek negatif pada anak. Seolah-olah uang yang dimiliki orangtuanya adalah sesuatu yang tidak pernah akan habis. Kalaupun uang di dompet sudah habis maka tinggal datang ke mesin ATM saja untuk mengambilnya lagi.

Lalu, lantaran semua keinginannya pasti akan dituruti, ia akan berusaha dengan segala macam cara untuk menekan orangtua agar menuruti kemauannya. Selanjutnya, kalaupun sudah dipenuhi maka rasa tanggung jawabnya untuk menjaga barang yang sudah dimiliki tersebut akan menjadi berkurang. Yang lebih jeleknya lagi bila sifat ini terbawa hingga dewasa. Ujung-ujungnya akan membuat si anak tersebut menjadi pribadi yang egois dan hanya mau menang sendiri.

Tentunya yang namanya mendidik anak tentang ilmu ataupun mindset tertentu bukan hal sepele dan singkat. Pastinya membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran yang tidak sedikit. Pun, hasilnya juga pasti tidak dapat dijamin berhasil.

Sama halnya dengan mendidik anak tentang pengelolaan uang.  Bisa jadi membuat anak tersebut benar-benar sadar dan paham tentang manfaat uang. Atau bisa jadi dengan karakter si anak justru akan membuatnya semakin konsumtif.

 

BUKA KESADARAN ANAK

Cara yang bisa dilakukan untuk memulai kesadaraannya tentang manfaat dan pensikapan terhadap uang adalah dengan mulai mengajarinya menabung. Ketika anak masih duduk di bangku TK dan mulai mengenal yang namanya uang jajan.

Beri pemahaman padanya bahwa dari sekian banyak uang yang dimiliki, jangan semuanya dihabiskan untuk membeli apa saja yang jadi keinginannya. Akan tetapi, harus disisihkan secara rutin agar ia kelak bisa mendapatkan/membeli sesuatu yang lebih, misalnya mainan yang lebih baik dengan harga yang lebih tinggi/mahal.

Lalu, ketika anak sudah menginjak usia SD, mulai perkenalkan dengan menabung dengan cara lain, yaitu berupa menabung di bank. Buatkanlah tabungan atas nama anak sehingga ia akan merasa senang dan lebih bertanggung jawab atas isi tabungan tersebut.

Sebagai orangtua, kita pun bisa memantau dengan lebih mudah pergerakan isi tabungannya. Apakah uang jajan yang diberikan selama ini benar sudah disisihkan untuk ditabung atau belum seperti yang tertera di buku tabungannya ataupun di mutasi rekeningnya. Hal ini tentunya dengan tujuan agar anak memiliki tanggung jawab lebih atas uang jajan lebih yang diterimanya selama ini.

 

SANG PENIRU ULUNG

Banyak orangtua yang begitu bersemangat dan berharap bahwa anaknya dapat tumbuh jadi seseorang yang dapat menghargai uang dengan baik dengan berusaha mengajarinya dengan berbagai cara. Namun lupa bahwa anak adalah peniru yang ulung.

Siapa yang ditiru oleh anak? tentu saja orang yang paling dekat dan ada di sekitarnya sehari-hari, yaitu orangtuanya. Maka sebelum mengajari anak tentang hakekat dan aplikasi menabung, orangtua harus melakukannya terlebih dahulu.

Kemudian, agar proses memberi contoh itu terlihat oleh anak, bisa saja orangtua menyediakan minimal sebuah celengan yang diisi secara reguler. Ya, agar anak merasa mendapatkan pendampingan yang menyenangkan tentang konsep menabung ini, beri ia sebuah celengan dan lakukan prosesi pengisian tersebut secara bersama – sama. Alhasil, ia merasa orangtuanya pun melakukan seperti apa yang diajarkan kepadanya.

Selain urusan belajar menabung, pastinya kita juga berharap agar anak tidak tumbuh menjadi seseorang yang konsumtif. Karena itu, orangtua juga harus dapat mengatur barang apa saja yang harus dibeli dan kemana saja uang yang dimiliki dibelanjakan.

Kenapa demikian? Karena pasti ketika anak sering diajak berbelanja maka ia melihat orangtuanya begitu mudah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang menjadi keinginan tanpa bisa dibendungi. Kemudian, alam bawah sadarnya akan merekam hal tersebut dan mengingatnya sebagai sebuah hal yang diperbolehkan.

Jadi sebagai orangtua, mari ajari anak dengan memberi contoh yang baik. Maka akan ada dua manfaat yaitu  keuangan sang orangtua dapat menjadi lebih terencana, juga bagi sang anak akan memiliki role model yang baik. (Hil)

Foto: freepik.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − thirteen =