Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus (3)

Lalu, bagaimana upaya atau solusi atas masalah/konflik yang dihadapi dengan pasangan.  Bagaimana caranya supaya suami-istri bisa satu paham, satu pemikiran dan berupaya bersama demi kebaikan anak spesial ini?

Hal pertama yang perlu dipahami oleh suami istri adalah pernikahan mereka sangat berharga untuk tetap dijaga.  Tidak peduli seberapa besar kebutuhan anak mereka. Banyak orangtua ABK menghabiskan energi, waktu dan pemikiran mereka ke anak dan tidak lagi memikirkan kebutuhan pasangan. Hal ini tidaklah benar karena dari hubungan pernikahan yang kuat dan harmonis, anak akan bertumbuh lebih optimal.

Sediakan waktu setidaknya 20 menit setiap hari untuk berkomunikasi dengan pasangan. Selama waktu itu tidak diperkenankan membicarakan tentang anak. Hal ini untuk membangun lagi hubungan seperti pada masa awal ketika pasangan suami istri jatuh cinta.

Suami istri perlu bekerja sebagai suatu tim dan tidak berjalan sendiri. Dalam memutuskan berbagai hal untuk anak selalu libatkan pasangan. Terima berbagai hal yang berbeda mengenai apa yang terbaik untuk anak karena masing-masing memiliki pengharapan yang berbeda. Hargai setiap pendapat pasangan dan tidak hanya memaksakan pendapat sendiri. Hal inilah yang dapat menguatkan hubungan suami istri.

          Suami-istri masing-masing perlu untuk bisa berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan dengan pasangan, menata hati dan pikiran untuk bersama-sama menerima kondisi anak apa adanya. Keduanya menerima karunia Tuhan ini dengan segala keterbatasan dan keunggulan yang ada pada ABK. Alhasil, suami-istri dapat berkolaborasi mengupayakan membesarkan buah hati yang spesial ini seoptimal mungkin.

Pasangan perlu menyadari dengan sepenuhnya bahwa mereka sedang masuk dalam suatu masa perubahan. Setiap perubahan dapat menimbulkan reaksi emosi negatif yang kuat. Kesadaran akan hal ini dapat membuat masing masing pihak dapat menerima serta berempati kepada kebutuhan pasangan. Pernikahan yang kuat juga tidak bisa bertumbuh dengan sendirinya. Pernikahan harus mendapatkan ‘nutrisi’ yang cukup. Sediakan waktu untuk membangun hubungan antara suami dan istri. Perhatikan kebutuhan pasangan dan tidak hanya kebutuhan anak saja.

Ingatlah bahwa pernikahan dimulai dari dua orang yang jatuh cinta dan memutuskan untuk berkomitmen.  Jadi jatuh cintalah kembali dan terus membina setiap komitmen. Dari pernikahan yang kuat pasti ada anak-anak yang dapat berkembang secara optimal.

Maka suami istri perlu melihat diri mereka adalah suatu tim dan bukan pribadi yang berdiri sendiri. Jadi untuk setiap keputusan yang diambil harus merupakan hasil dari suatu diskusi antara suami istri. Keduanya bersepakat serta memiliki komitmen yang sama untuk suatu tujuan yang sama.

foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 2 =