Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus (2)

Dalam kehidupan pernikahan pasti ada masalah atau tantangan tersendiri. Nah, hal utama yang perlu dimiliki pasangan dalam menghadapi masalah rumah tangga adalah suatu komitmen. Bahwa ketika mereka memutuskan menikah, masing-masing tidak bisa berjalan sendiri. Mereka adalah satu tim dalam menghadapi berbagai keindahan dan tantangan dalam pernikahan.

Begitupun ketika pasangan ini dikaruniai ABK. Reaksi awal pastinya  pasangan suami-istri akan berfokus kepada kebutuhan sang buah hati. Hal ini wajar karena mereka sedang menghadapi suatu permasalahan dan perubahan perjalanan kehidupan yang baru. Namun sangat perlu diingat bahwa suami-istri tidak bisa selamanya hanya berfokus kepada ABK. Mereka perlu mulai secara bertahap membagi perhatian kepada pasangan satu sama lain. Termasuk membagi perhatian terhadap kakak atau adik dari ABK tersebut.

Begitu pula bila ternyata pasangan saling menyalahkan. Berusaha mencari siapa yang salah atau siapa yang bertanggung jawab merupakan reaksi umum yang muncul ketika pasangan menghadapi suatu persoalan. Biasanya ini akan menjadi salah satu kendala dalam berkomunikasi. Nah, yang perlu dipahami bersama bahwa dalam menghadapi dan memecahkan masalah bukan “Siapa yang salah dalam hal ini?”. Akan tetapi berfokus kepada “Bagaimana kami memecahkan masalah ini?”. Formula ini perlu diterapkan dalam berbagai persoalan rumah tangga.

Bagaimana bila salah satu pihak malah bersikap cuek, baik terhadap anak maupun pasangan? Sikap seperti ini dapat muncul karena dilandasi penyangkalan terhadap situasi yang terjadi. Respons yang muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang memicu stres adalah flight or fight response. Ketika seseorang bersikap cuek kepada anak atau pasangan berarti sedang memilih sikap flight  atau lari dari permasalahan. Ia tidak fight atau menghadapi masalah yang ada.

Yang paling fatal atau ekstrem adalah bila hal ini justru memicu atau berujung pada perceraian. Perceraian dalam kehidupan orangtua ABK dapat terjadi karena reaksi-reaksi emosi negatif yang timbul tidak dapat diatasi dengan baik oleh kedua belah pihak. Suami istri saling menyalahkan, sulit memaafkan kesalahan salah satu pihak dan menjadikannya sebagai penyebab dari gangguan yang dialami anak.  Perceraian dapat saja terjadi bila salah satu pasangan terlalu berfokus kepada kebutuhan anak, namun  mengabaikan kebutuhan pasangan.

Foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two + 18 =