Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus (1)

Pasangan suami-istri adalah satu tim dalam mengarungi tantangan rumah tangga. Dalam mendidik ABK pun perlu bersama-sama.

 

Anak adalah karunia, anugerah, amanah, dan titipan Tuhan yang harus dijaga, dididik, dan mendapat kasih sayang yang paripurna dari orangtuanya.

Seperti kita tahu, sebagian dari pasangan suami-istri dikaruniai anak berkebutuhan khusus (ABK). Ada pasangan yang ikhlas menerima ketentuan Tuhan ini. Satu sama lain mensupport sang buah hati sehingga ia dapat bertumbuh dan berkembang seoptimal mungkin, sejauh yang bisa dicapai olehnya.

Akan tetapi, ada juga pasangan yang ‘pesimis’. Salah satu pihak, belum atau tidak sanggup menerima kenyataan. Hal tersebut memicu konflik-konflik dalam diri sendiri bahkan konflik dengan pasangan.

Ada beragam kemungkinan kendala psikologis yang muncul dalam diri sendiri, di antaranya merasa bersalah, malu, merasa sebagai ‘aib’, merasa tak berdaya dengan kondisi ini. Marah terhadap situasi, pihak profesional (dokter) bahkan marah kepada Tuhan.

Selain itu, bisa juga muncul ketakutan akan masa depan anak, bingung karena akan menghadapi berbagai hal yang baru mulai dari diagnosa, terapi, penanganan terhadap anak dan berbagai hal lain yang akan sangat berbeda dalam mengasuh ABK dibandingkan anak lain pada umumnya.

Penolakan terhadap diagnosa pihak profesional (dokter) dapat menyebabkan anak tidak mendapatkan penanganan yang tepat untuk menjawab kebutuhannya. Dalam kondisi yang lebih ekstrim dapat saja terjadi penolakan terhadap anak (bahkan penolakan sejak hamil bila masalah sudah terdeteksi sejak janin) dan berharap agar anak tersebut meninggal.

Kendala-kendala tersebut sebagian besar adalah wajar, meski ada yang ekstrim dan bisa dikatakan tidak wajar. Semua kendala tersebut tentu perlu ditangani. Bila dibiarkan akan mengganggu fungsi sebagai orangtua maupun perkembangan ABK itu sendiri.

Selain muncul masalah dengan diri sendiri, muncul pula konflik-konflik dengan pasangan. Misalnya, saling menyalahkan sehingga salah satu pihak merasa disalahkan, salah satu pihak tidak/kurang mendukung atau cuek dengan anak dan pasangannya. Ada juga masalah dalam finansial karena kebutuhan ABK yang tidak sedikit memengaruhi pengelolaan uang dalam rumah tangga. Selain itu, masalah dalam seksualitas dimana pasangan terlalu berfokus untuk menjawab kebutuhan ABK dan melupakan kebutuhan pasangan. Yang paling ekstrem adalah konflik yang berujung pada perceraian.

Foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − eleven =