Memahami Perkembangan Otak Bayi (2)

Riset menunjukkan, berat otak hanya 2-3 persen bila dibanding seluruh berat badan.  Umumnya, saat lahir tak bayi hanya 350 gram. Lalu, di usia 1 tahun bertambah menjadi 1.200 gram. Percepatan pertambahan berat otak tiap anak berbeda-beda, tergantung faktor genetik dan lingkungan.

Penelitian juga menyebutkan, otak bayi baru lahir besarnya sudah mencapai 25 persen dari otak orang dewasa. Lalu, pada usia satu tahun perkembangannya mencapai 70 persen dari otak dewasa. Pada umur satu tahun juga otak bayi mengandung 100 miliar sel neuron.

Dari angka tersebut, sekitar 70-80 persen sel neuron terbentuk lengkap. Memang, sejak bayi lahir sampai usia 1 tahun terjadi pertumbuhan otak yang pesat sehingga masa ini disebut periode lompatan pertumbuhan otak. Dalam rentang waktu itu, sel neuron dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Maka disarankan orangtua memerikan stimulasi dengan optimal di masa ini.

Secara sederhana, otak dibagi dalam 2 bagian, yaitu otak besar dan otak kecil. Otak besar berperan penting dalam kemampuan berpikir dan tingkat kecerdasan. Sedangkan otak kecil bertanggung jawab sebagai pengontrol koordinasi dan keseimbangan.

Selanjutnya, struktur otak terbagi menjadi 2 bagian, yaitu otak kiri dan kanan. Masing-masing memiliki fungsi berbeda. Otak kiri berkaitan dengan fungsi akademis seperti belajar berhitung (matematika), logika, membaca, menulis, menganalisa, dan mengembangkan kemampuan daya ingat. Sementara, otak kanan berkaitan dengan kreativitas, seperti seni atau olahraga.

 

FAKTOR GENETIK DAN LINGKUNGAN

Tumbuh-kembang otak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Jika kedua faktor ini tak mendukung, dengan sendirinya tumbuh-kembang otak jauh dari optimal. Faktor genetik dan lingkungan tak bisa berdiri sendiri, keduanya saling berkaitan dan bergandengan agar otak berkembang dengan baik.

Faktor genetik dipengaruhi juga oleh kondisi kesehatan ataupun gizi saat si kecil masih berupa janin. Jadi, kalau ibu kekurangan gizi, otomatis perkembangan sel-sel saraf dan pertumbuhan jaringan saraf janin pun tidak sebanyak yang harusnya bisa dicapai jika gizi ibu baik. Alhasil, otak bayi cenderung kecil dan kemungkinan kemampuan memorinya menjadi sedikit. Proses kerja otaknya juga lebih lamban ketimbang otak yang ukurannya lebih besar.

Kelak, perkembangan motorik si kecil akan terlambat dan sehari-hari pun ia terlihat kurang cerdas. Tak heran, jika ibu hamil sangat dianjurkan untuk selalu mengonsumsi makanan yang bergizi.

Faktor lingkungan, dalam hal ini orangtua, juga punya peran yang penting terutama untuk menstimulasi si kecil. Rangsangan yang lebih optimal tentu harus diberikan setelah bayi lahir. Suara atau belaian orangtua merupakan stimulasi bagi bayi yang dapat mempercepat perkembangan otaknya.

Tanpa stimulasi, otak bayi menjadi tidak terolah. Akibatnya, jaringan saraf (sinaps) yang jarang atau tidak terpakai akan musnah. Di sinilah pentingnya pemberian stimulasi secara rutin. Setiap kali anak berpikir atau mengfungsikan otaknya, akan terbentuk sinaps baru untuk merespons stimulasi tersebut. Berarti, stimulasi yang terus-menerus akan memperkuat sinaps yang lama sehingga otomatis membuat fungsi otak akan makin baik.

Foto: freepik.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + 13 =