Manajemen Pikiran dan Perasaan, Bagaimana Caranya?

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memahami manusia. Manusia itu begitu kompleks sehingga diperlukan bentuk-bentuk pemodelan untuk menyederhanakan kompleksitas itu.

Ada banyak pemodelan, misalnya ego, nafsu, mekanisme dan kerja otak, personality dan sebagainya.

Manajemen Pikiran dan Perasaan (MPd) adalah salah satu bentuk pemodelan untuk memahami fenomena manusia, segala perilaku dan faktor-faktor keberdayaannya.  Secara mudah, kita bisa memahami bahwa manusia memang makhluk yang terdiri dari pikiran dan perasaan. Biasanya muncul pertanyaan: “Lalu, bagaimana posisi tubuh atau badan? ” Di sinilah kita perlu memahami perbedaan pikiran dan perasaan. Perasaan adalah pikiran yang sudah sampai ke dunia fisik. Itu sebabnya, perasaan ada “lokasinya”. Pening itu dijidat, misalnya.

Maka, pikiran yang tidak berlokasi, secara waktu lebih melekat pada masa lalu dan masa depan. Itu sebabnya menata masa depan atau mengoreksi masa lalu, harus dilakukan dengan berpikir.

Sementara, perasaan yang berlokasi, lebih melekat pada di sini dan sekarang. Maka muncul bahagia tanpa syarat. Nah, MPdP terkait erat dengan fenomena kebahagiaan. Hal keseharian yang paling menentukan adalah stres.

Menurut MPdP, definisi stres adalah bila pikiran dirasakan atau perasaan dipikirkan. Contoh, setiap pekerjaan dan penugasan adalah fenomena pikiran. Ini dibuktikan dengan keberadaan batas waktu, cara kerja, mekanisme, tata urutan, perhitungan, formulir, laporan dan seterusnya. Maka jika semua itu direspons dengan rasa, misalnya “Kok saya lagi?” maka yang bersangkutan langsung stres.

Cara terbaik adalah merespons dengan pikiran sehingga dua fenomena yaitu stimulus dan respons, akan beresonansi dengan baik dan memberdayakan. Misalnya, dengan memecah tugas dan pekerjaan menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Inilah yang disebut dengan “kerja cerdas”. Sebaliknya, stimulus rasa sudah semestinya juga direspons dengan rasa. Hal terbaik bagi rasa adalah “disalurkan”.

Kemudian, jika kita kecewa pada seseorang, hal terbaik adalah menyalurkannya. Misalnya dengan mengatakan baik-baik, “Saya kecewa”. Jika itu tidak dilakukan, yang terjadi adalah susah tidur karena “analisis strategis” yang dilakukan menjelang tidur yang tidak berujung tidur. “Tuh kan, dia memang selalu begitu, padahal, aku sudah…”

“Malah, si A si C itu juga kayaknya mendukung dia…”

Dan seterusnya. Stres? Pasti.

Di sinilah muncul “manajemen” karena dua hal, yaitu pikiran dan perasaan seringkali berbeda paham. Satu ke kanan dan satu lagi mungkin ke kiri. Hal dimulai dengan memahami perbedaan pikiran dan perasaan.

Cara Membedakan Pikiran dan Perasaan

Pikiran adalah proses, yaitu jika otak kita bekerja dalam lima cara berikut ini:

  1. Memilih
  2. Mengurutkan
  3. Mengelompokkan
  4. Membandingkan
  5. Memberi hubungan

 

Contoh:

“Bakso atau siomay ya?”

“Ini dulu baru itu.”

“Laki-laki memang berandalan.”

“Menurut saya, si A itu lebih baik daripada si B.”

“Aku kecewa, habis kamu janji tapi ingkar mulu.”

Semua itu adalah berpikir dan pada titik itu baper (terbawa perasaan) adalah blunder.

Nah, di luar kelima hal itu, semua hal bisa disebut rasa dengan ciri utama: biasanya terdiri dari satu kata. “Marah” itu rasa, tapi “marah gara-gara..” itu pikir (memberi hubungan ‘gara-gara’).

MPdP adalah pilihan dan keputusan untuk menjadi dewasa.Hidup kita dimulai dengan siklus rasa. Kita lahir dengan menangis dan tidak langsung ber-WA (whatsapp). Rasa langsung bekerja tapi sel otak masih sedikit dan otak itu sendiri pun baru “under construction”. Lapar menangis, pipis menangis, digigit nyamuk menangis, mau menyusu menangis. Itulah rasa.

Lalu, datanglah masa-masa di mana orang mensimbolisasikan kedewasaan dengan “sunat” atau “khitan”, upacara digigit semut, berburu hewan buas pertama kali, meruncingkan gigi dan sebagainya. Kita mengalaminya juga.

Pertanyaan mendasar: Kapan Anda memutuskan “dewasa”? Apakah wanita lebih rasa dan pria lebih mikir? Tidak juga. Dalam banyak kasus, faktor hormonal memang berperan, tapi tidak berarti wanita lebih rasa dan pria lebih logika.

Pertanyaannya, bagaimana menata perasaan yang lagi galau. Jika seseorang mengalami suatu hal yang sebenarnya tidak diinginkan, tetapi ini mutlak karena kuasa Tuhan dan kita tidak bisa menghindarinya.

Ini tentang kapasitas seseorang terkait kemampuan MPdP. Perhatikan ini:

“Tidakkah kamu berpikir?”

“Tidakkah kamu memikirkan?”

“Bagi yang berakal.”

Tuhan pun, hanya “mau” berinteraksi dengan yang pandai berpikir. Tuhan hanya ingin kita “baperan” terkait cinta pada-Nya. Caranya pakai pikir. Berobat itu sunnah. Bukan wajib.

Sakit itu kebaikan yang disembunyikan. Jadi pahami ya, berarti ini memang nikmat Allah. Ketika banyak yang berpikir tak mungkin ternyata itu sangat mungkin bagi Allah.

Termasuk sakit hati dan galau. kita sering mendengar istilah bahwa dewasa tdk bisa diukur dari usia tetapi kematangan pola pikir. Nah, untuk bisa berpikir dewasa, (matang, bijak, memanajemen perasaan dengan baik) latihan pertama yang bisa dilakukan apa ya? Supaya bisa pintar manajemen perasaan apa kebiasaan yang bisa kita lakukan?

Tak semua orang bisa mengungkapkan rasa dengan mudah jika sedang jengkel atau marah pada orang lain. Tipsnya adalah:

Pertama, putuskan untuk dewasa (bila belum).

Kedua, latih perasaan dengan kehalusannya. Sabar dan syukur. Kuncinya rasakan,] sesering mungkin, kalau perlu minute by minute.

Ketiga, latih pikir dengan ketajamannya. Seringlah berhadapan dengan pilihan dan pahamilah bahwa semua masalah adalah kumpulan pilihan. Misalnya, menu restoran itu masalah, kan?

Tentang mengungkapkan rasa: coba biasakan. Misalnya, mengatakan “I love you”, mungkin

‘nggak gue banget’, tapi begitu terbiasa ya biasa saja.Memang susah mengubah pikir ke rasa, atau sebaliknya. Hal penting lain, hindari penyakit 2Y yaitu lebay dan sotoy. Pikiran berputar-putar, perasaan berdenyut naik-turun. Nah, kapan Anda memutuskan untuk dewasa? (hil)

Narasumber: Ikhwan Sopa

Foto: freepik.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 4 =