Kiat Hadapi Si Anak Ambisius (3)

Menurut Erickson, dalam teori perkembangan psikososial, awal kehidupan anak ditandai dengan adanya trust vs mistrust. Trust pada masa anak-anak membentuk harapan bahwa dunia ini merupakan tempat yang nyaman. Jika anak tidak merasa nyaman dengan lingkungannya maka yang berkembang adalah rasa mistrust. Dengan demikian, dalam memberi semangat/memotivasi harus mementingkan kenyamanan dan kebahagiaan anak, yaitu dengan cara yang menyenangkan. Alhasil, si kecil menikmati aktivitasnya.

Pada usia 1-3 tahun ditandai dengan autonomy vs shame and doubt. Pada masa ini anak cenderung aktif dalam segala hal. Jika anak diberi kesempatan untuk mencoba maka akan muncul autonomy. tetapi kalau anak banyak diarahkan/dilarang maka ia akan menjadi anak yang pemalu dan ragu-ragu. Nah, dengan cara seimbang dalam memberi kebebasan dan pengarahan, anak dapat mengembangkan rasa percaya diri dan kontrol dirinya, sehingga cukup ideal pada usia ini anak dilepas untuk belajar mengatasi masalahnya sendiri.

Lalu usia 3-5 tahun ditandai dengan initiative vs guilt. Pada usia ini anak mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitar sehingga memuculkan rasa ingin tahu. Ketika ia masuk dunia sekolah, anak lebih tertantang. Anak belajar mengatasi/ beradaptasi dengan lingkungannya. Ia belajar bertanggung jawab dan menjaga miliknya. Dengan adanya pengalaman dari lingkungan, dapat membuat anak memiliki rasa percaya pada dunianya dan menumbuhkan inisiatif.

Pada usia 5-12 tahun ditandai dengan industry vs inferiority. Anak mengembangkan sikap rajin (industry). Orangtua dan guru berperan memperhatikan kebutuhan anak pada masa ini. Alhasil, anak dapat mengembangkan kompetensinya dan menjadi produktif.

BILA TUJUAN GAGAL DICAPAI

Ketika suatu tujuan yang menjadi ambisi anak belum tercapai, umumnya menimbulkan emosi-emosi negatif, seperti kecewa, sedih, marah. Hal ini memungkinkan anak menjadi kurang bersemangat ataupun rasa percaya dirinya berkurang. Coba dekati dan ajak diskusi sang anak. Dampingi anak untuk mengenali kendala-kendala yang dihadapi sehingga tujuannya belum tercapai. Dengan mengenali kendalanya maka bisa disusun kembali strategi yang akan dilakukan agar tujuan itu bisa diraih.

Bila anak malah jadi kehilangan ambisi, tanyakan apa kendala yang ditemuinya. Berikan dukungan bahwa sebenarnya ia bisa asalkan lebih teliti atau lebih tekun. Hal ini dapat mengembangkan rasa percaya diri. Ada baiknya orangtua juga menemukan kelebihan anak untuk bisa dikembangkan secara optimal.

Foto: freepik.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × four =