Hari Kanker Anak Sedunia, Waspada Gejala Kanker pada Si Kecil

Hari Kanker Anak Internasional diperingati setiap 15 Februari. Kanker merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak dan remaja. International Agency for Research on Cancer (2015) mencatat, angka kejadian kanker anak di seluruh dunia meningkat, dari 165.000 kasus baru setiap tahun menjadi 215.000 kasus untuk anak-anak 14 tahun dan lebih muda serta 85.000 kasus baru untuk anak usia 15-19 tahun. Namun, sebenarnya masih banyak yang belum terdata jadi kemungkinan angkanya lebih tinggi lagi.

 

Menurut Dr.R. Dina Garniasih, Sp.A M.Kes, dari MRCCC Siloam Hospital, Jakarta, kanker adalah suatu penyakit yang diakibatkan sel membelah diri terus-menerus tanpa terkendali. Tubuh manusia terdiri dari sel. Dalam kondisi normal sel akan tumbuh dan membelahu diri pada kondisi tertentu, yaitu pada saat tubuh benar-benar memerlukan sel-sel baru. Proses ini akan berlangsung terus menerus hingga tubuh tetap terjaga dalam kondisi yang baik. Pada kanker sel-sel tubuh terus membelah diri walaupun tidak diperlukan oleh tubuh.

 

Kanker pada anak berbeda dari kanker pada orang dewasa. Kanker pada orang dewasa dapat dicegah, sementara pada anak tidak. Hingga saat ini, penyebab kanker pada anak belum diketahui secara pasti. Akan tetapi perlu diketahui bahwa pola hidup dan makan yang sehat tetap harus diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Hal tersebut bukan saja bertujuan untuk mencegah agar pada saat mereka menginjak usia dewasa, dapat terhindar dari berbagai jenis kanker yang biasanya menyerang orang dewasa.

 

Penderita kanker di Indonesia mencapai 6% dari populasi atau sekitar 16 juta pasien, dan 11.000 orang di antaranya adalah anak-anak. Adapun jenis kanker yang sering dialami anak-anak adalah kanker darah (leukemia) yaitu sekitar 25–30% dari seluruh penderita kanker anak. Kemudian, tumor otak, kanker retina mata (neuroblastoma), kelenjar getah bening (limfoma maligna), saraf, ginjal, otot, serta tulang.

 

Terdapat tiga jenis pengobatan kanker, yaitu pembedahan, kemoterapi, dan radiasi. Lama dan regimen pemberian terapi tersebut tergantung dari jenis kanker yang diderita dan stadiumnya.

 

Efek samping pembedahan tergantung dari letak tumor, jenis operasi yang dilakukan, kondisi kesehatan anak secara keseluruhan, dan faktor-faktor lainnya. Efek samping tersebut antara lain nyeri setelah operasi, mual, dan pusing. Efek samping kemoterapi antara lain mual dan muntah, diare, sariawan, rambut rontok, kulit kering, demam, dan infeksi. Sedangkan, efek samping radioterapi antara lain pusing, lemas, rambut rontok, sariawan, mual, mulut kering, mual, muntah, dan diare.

 

Kanker pada anak dapat disembuhkan bila ditangani sejak dini dengan perawatan dan penangan yang sebaik-baiknya. Tentu saja tingkat kesembuhannya tegantung jenis kanker yang diderita dan stadiumnya.

 

Anak kanker tetap memiliki kebutuhan untuk tetap bersekolah, bermain dengan teman-temannya, dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya yang biasa dilakukan sebelum terkena kanker. Olah raga juga salah satunya, tapi tentu saja disesuaikan dengan kondisi kesehatan anak. Biarkan anak menjalani hidup normal seperti anak sehat.

 

Hal yang perlu diperhatikan orang tua yang memiliki anak kanker antara lain pola makan di rumah yang baik, pencegahan infeksi, menjaga kebersihan mulut dan gigi, kebutuhan anak untuk sekolah dan bermain, juga mendampingi anak selalu dalam menghadapi penyakitnya dan dalam menjalani serangkaian pengobatan. (Hil)

Foto: freepik.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − seven =