Fathering Brain, Peran Ayah Mengasuh Anak Melalui Dinamika Otak

Menurut Anda, Seberapa besar peran seorang ayah dalam pengasuhan anak? Lalu, bagaimana caranya agar seorang ayah dapat menjadi figur yang positif bagi buah hati?

Ya, ayah punya peran yang sangat penting dalam mengasuh dan mendidik anak.  Ada metode yang disebut fathering brain, yaitu bagaimana peran ayah dalam mengasuh dan mendidik buah hati dengan menggunakan dinamika otak yang bersinergi dengan anak.

Tentunya, hal-hal positif yang akan dapatkan baik oleh ayah maupun anak, bila ada peran aktif dari sosok ayah dalam pengasuhan. Setidaknya, ada dua otak yang akan saling menguatkan secara positif bila ayah terlibat mengasuh dan mendidik, yaitu otak rasio anak dan otak emosi anak.

Nah, otak rasio akan membantu anak mengembangkan kemampuan otaknya yang terkait dengan pemikiran yang kritis, lugas, terukur dalam bertindak dan berkeputusan. Anak akan terlatih untuk hal-hal tersebut.

Sedangkan, otak emosi anak akan membantu anak untuk mampu bangkit percaya diri atas ketidaknyamanan yang dialaminya, anak akan lebih asertif untuk menceritakan apa yang dirasakannya, anak akan matang dalam merespons emosi orang di sekitarnya. Dalam penguasaan emosi, anak akan lebih terarah untuk berbicara, ditambah ekspresi emosi anak sangat terkendali.

Nah, kedua otak anak ini terbentuk melalui tahapan-tahapan yang harus diikuti oleh ayah, bukan hanya oleh ibu. Inilah yang harus dipahami para ayah di zaman sekarang. Bahkan, hanya dengan hal sederhana, misalnya mengecup kening anak, otaknya akan bereaksi secara positif. Adapun otak yang bereaksi adalah otak rasio serta otak emosi ayah dan anak yang berada dalam satu gelombang yang sama.

Contoh lain, ayah bisa memberikan sentuhan ringan pada si kecil dan ungkapan positif yang singkat sehingga saraf-saraf akan bereaksi secara positif pula. Hal-hal seperti inlah yang kadang luput dari perhatian para ayah. Bahkan, ayah jarang memberikan sentuhan atau sensasi emosi secara positif pada anak, baik dengan cara mengecup kening anak atau memberi dukungan positif secara verbal yang sederhana sekalipun.

Justru, kenyataannya para ayah mungkin pernah tanpa sadar memarahi anak. Nah, tahukah otak bagian mana yang berubah strukturnya, baik otak pada anak maupun ayah? Ya, perubahan ke arah kemunduran otak.

Jadi, perlu diperhatikan bahwa ayah yang mendukung adalah ayah yang matang secara emosi dan pikiran. Bila ayah selalu penuh emosi, tidak sabar, akan membuat anak serupa dengan ayahnya. Bila otak mendapat hal-hal negatif dari ayah atau figur laki-laki lain di lingkungan, maka hal negatif itu akan memengaruhi dinamika psikologis otak anak.

Karena itu, ayah perlu belajar dan pasti bisa menjadi ayah yang hebat. Ada beberapa manfaat yang bisa dipetik bila ayah dengan anak dan menjadi sosok ayah yang hebat:

  1. Anak tumbuh menjadi pribadi yang baik.
  2. Tumbuh kembang anak menjadi optimal.
  3. Meningkatkan hubungan emosional antara ayah dan anak
  4. Memengaruhi keberhasilan anak di masa depan.

Intinya, peran ayah sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Citra anak juga tercermin dalam pola pengasuhan yang terekam di bawah alam sadar. Maka ayah teruslah belajar menjadi super dad, ayah yang hebat serta menjadi kebanggaan anak.

Akan lebih baik lagi bila ayah dan bila bersinergi dalam mengasuh anak, sehingga secara emosional dan berpikir akan positif serta anak akan matang secara mental. (hilman)

Foto: freepik.com

Narasumber: Mohamad Basir, S. Psi., M.Psi, Psikolog

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen − eleven =