Cara Hadapi Perilaku Si Usia Sekolah (2)

Perilaku berbohong bisa diminimalisasi sejak dini, misalnya menyeleksi dan mendampingi anak saat menonton teve, tidak menghukum bila ia sudah mengakui kesalahan, memberi apresiasi atas kejujuran anak. Kadang anak menceritakan apa yang diimajinasikannya, bukan apa yang terjadi. Namun tidak ada maksud anak untuk berbohong sehingga kepekaan orangtua untuk membedakan hal ini sangat penting.

Sekecil apapun kebohongan anak, perilaku tersebut sudah dikatakan tidak wajar. Namun jangan pernah mengatakan pembohong pada anak. Bantu ia berani jujur dan terbuka dengan orangtua.Penting juga bagi orangtua untuk mengoreksi perilaku sendiri sebelum mengoreksi perilaku anak, khususnya mengenai kejujuran. Awalnya anak mungkin tidak bermaksud bohong namun hanya meniru perilaku orangtua. Misal, orangtua memberi janji tapi tak ditepati.

Antisipatif munculnya perilaku berbohong dapat dilakukan dengan cara melakukan triangulasi data (cross check) terhadap peristiwa yang terjadi pada anak. Sebaiknya cross check tidak dilakukan di depan anak karena akan menyudutkannya. Jika anak terlanjur suka bohong maka koreksilah perilaku tersebut dengan memberi pengertian kenapa kita harus jujur, memberi apresiasi atas kejujuran dan memberikan konsekuensi atas kebohongan anak. Misal meminta anak meminta maaf pada pihak yang dirugikan, tetaplah memberikan kepercayaan pada anak dan tidak menyudutkan dengan menceritakan kesalahannya di depan orang lain atau mengolok perbuatan tersebut berulang kali.

  1. Takut bergaul/terlalu pemalu

Orangtua harus peka apakah buah hatinya bertipe ekstrovert atau introvert sehingga tidak mudah mengatakan anaknya pemalu/takut gaul. Perlu disadari, setiap orang butuh waktu yang relatif berbeda untuk beradaptasi. Setiap orang punya zona nyaman yang berbeda, misalnya jumlah orang dan karakter orang yang ada di sekitarnya.

Tidak ada yang salah dengan anak yang introvert selama dia merasa nyaman mengikuti pelajaran di sekolah, mampu memahami pelajaran, tidak lekat dengan orangtua (tidak minta ditemani orangtua di sekolah), dapat mengekspresikan perasaan dan pemikirannya.

Meski begitu, orangtua tetap perlu mengembangkan keterampilan sosialisasi anak, misalnya mengajaknya pergi mengunjungi teman dekat orangtua dan membatasi penggunaan sosmed. Anak yang cenderung enggan menjalin hubungan pertemanan dengan teman sebaya pada usia ini dapat disebabkan kurang memiliki keterampilan komunikasi, merasa rendah diri karena berbeda dengan orang lain, merasa tidak nyaman dengan lingkungan, dan merasa cukup dengan memiliki relasi di dunia maya.

Solusi:

Orangtua harus peka mengapa anak lebih pemalu dibanding teman sebayanya. Bantu ia untuk lebih berani dan nyaman bersosialisasi dengan orang lain. Namun, orangtua tidak dapat menjadikan orang lain sebagai parameter untuk perilaku anak. Misal, membandingkan si A lebih berani menjawab pertanyaan guru di kelas atau si B hebat karena memiliki banyak teman. Alih-alih memotivasi, hal ini justru dapat memojokkan anak sehingga ia merasa rendah diri dan menimbulkan stres tersendiri baginya.

Lebih efektif bila orangtua memberi contoh dan melibatkan anak dalam proses interaksi yang dilakukan, misalnya mengajak anak mengunjungi teman orangtua, berkenalan dengan orang baru untuk menanyakan sesuatu (misal waktu atau alamat), meminta anak untuk menyampaikan pesanan menu kepada pramusaji restoran.

Penggunaan gadget selain dapat mengurangi keterampilan bersosialisasi juga dapat mengurangi motivasi anak untuk menjalin relasi dengan orang di sekitarnya. Maka kita wajib membatasi anak menggunakan gadget.

Foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − ten =