Cara Hadapi Perilaku Si Usia Sekolah (1)  

 

Di rentang usia sekolah, anak mengembangkan sikap sikap otonom, percaya diri, mampu mengelola emosi dan punya inisiatif. Kemampuan komunikasi, perbendaharaan kata, dan kebiasaan berargumen mulai sering muncul. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki inisiatif terhadap peristiwa yang terjadi. Saat si usia sekolah menunjukkan sikap ini sebenarnya ia juga telah memiliki keinginan berkontribusi atau menghasilkan sesuatu baik untuk dirinya dan lingkungan.

Sayangnya, kemampuan kognitif anak usia ini cenderung intuitif (tidak berdasarkan logika dan hanya melihat dari satu sisi saja) sehingga pemikirannya relatif kurang tepat. Selain itu, kelekatan dengan orangtua berkurang dan mulai menikmati bermain dengan teman sebaya tanpa kehadiran ayah/ibunya. Perlu juga diketahui, anak yang banyak mendapat larangan dan kurang mendapat bimbingan akan menjadi anak yang rendah diri, memiliki rasa bersalah yang tinggi sehingga cenderung pasif.

Nah ada beberapa perilaku umum yang sering dilakukan anak usia ini, yaitu:

  1. Sibling Rivalry

Rivalry pada usia ini bisa terjadi terhadap saudara maupun teman sebaya. Persaingan dengan saudara (sibling rivalry) dapat terjadi meskipun orangtua merasa memperlakukan mereka dengan adil karena munculnya sifat egosentris si anak. Sementara itu, sikap persaingan dengan teman sebaya biasanya berkisar pada kepemilikan barang, misalnya mainan, sepeda dan sebagainya.

Rivalry terbilang wajar selama tak ada motivasi mencelakai diri atau orang lain. Perilaku ini bisa berefek positif manakala anak telah memiliki superego yang baik sehingga rasa bersaing itu dimanifestasikan secara positif. Misal, rajin membantu dan belajar lebih giat untuk mendapat perhatian orangtua.

Solusi:

Perilaku rivalry berdampak positif karena menunjukkan adanya kebutuhan berprestasi dan tidak takut pada kompetisi/persaingan asal mendapat bimbingan yang tepat dari orangtua. Pada situasi persaingan baik antarsaudara maupun teman sebaya, sebaiknya orangtua tetap menunjukkan sikap adil, baik dalam memberi perhatian dan pengertian, mencukupi kebutuhannya wajar, mengoreksi sikap persaingan yang diperlihatkan anak dan memantau bentuk-bentuk persaingan tetap ke arah yang produktif. Tetap menyayangi dan mencintai anak apa pun kondisinya  dapat mengurangi stres atau tekanan psikologis anak karena hal ini.

  1. Berbohong

Perilaku berbohong tidak terbentuk berdasarkan usia secara instan, tapi karena proses belajar dari lingkungan, baik secara langsung (anak diminta berbohong) maupun tidak langsung (melihat orangtua/pengasuh/teve).

Anak seharusnya telah memiliki superego yang baik pada usia ini sehingga mampu menilai sesuatu itu benar atau salah serta mematuhi aturan meski kadang kepatuhannya masih belum terinternalisasi (masih butuh diawasi). Anak yang berbohong di usia ini menunjukkan bahwa superegonya masih lemah. Pembentukan superego sangat dipengaruhi pola asuh orangtua yang memberi batasan perilaku mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Anak yang terbiasa berbohong cenderung tidak disukai teman atau justru dimanfaatkan teman untuk melakukan hal-hal yang negatif. Secara psikologis, anak yang berbohong tidak akan merasa nyaman dengan dirinya dan menimbulkan konflik dalam diri. Konflik ini dapat menghambat potensi positif yang dimilikinya. Misal, konflik keinginan untuk terlibat kegiatan keagamaan namun merasa berdosa dan telah di”labelling” pembohong oleh lingkungan menyebabkan ia menjauhi kegiatan keagamaan. Hal ini memberi efek negatif jangka panjang terhadap anak dalam pencarian jati diri dan lemahnya self control untuk meminimalkan perilaku negatif lainnya. Konflik batin yang terus menerus juga dapat menimbulkan gangguan psikologis.

Foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven − 4 =