Cara Bernegosiasi dengan Si Prasekolah (2)

  1. Sang anak slordig. Jorok. Tidak bisa rapi. Di sisi lain, orangtua ingin anak mandiri, rapi dan suka beres-beres tanpa harus dikomando dulu atau tak dibantu terus.

Solusi:

Pembiasaan sangat berperan dalam menumbuhkan karakter ini. Jika sudah dilakukan, proses negosiasi akan lebih mudah. Orangtua tinggal mengingatkan kebiasaan itu. Apabila belum, ini yang perlu upaya keras. Perilaku anak di rumah akan mengikuti iklim lingkungan yang disediakan orangtua di rumah. Apakah Anda suka beres-beres juga? Bagaimana dengan ayah? Apakah ayah sudah ikut beres-beres?

Anak peniru ulung. Tak paham banyak kata. Baginya, yang dilihat adalah contoh konkret bagaimana melakukan beres-beres. Maka duduklah bersama dan bicarakan kesulitan dan harapan ibu terhadap kondisi tersebut. Kemudian, sebutkan perilaku apa yang orangtua inginkan dari anak, apa tujuan dan harapannya.

Bagaimana kalau anak lupa atau kalau melanggar? Itu semua perlu dimusyawarahkan. Setelah sepakat, barulah pilih waktu kapan akan mulai. Tentukan juga siapa yang akan memonitor dan yang akan jadi penanggung jawab. Coba dulu sesuai kesanggupan. Bisa coba dilihat 3 hari ke depan, lalu evaluasi. Coba lagi untuk seminggu, lalu evaluasi lagi.

 

  1. Anak melakukan gerakan ‘tutup mulut’. Tak mau makan sayur dengan alasan tak enak atau pahit. Tapi, orangtua ingin anak doyan makan apa saja. Tidak pilih-pilih makanan.

Solusi:

Kebiasaan makan anak biasanya diturunkan oleh kebiasaan orangtua makan. Kata diturunkan ini adalah sebuah perilaku makan yang diamati dan dirasakan anak,  secara terus-menerus, lambat laun menjadi kebiasaan makan. Anak belum memiliki khasanah tentang rasa dari makanan. Mencoba makanan baru apalagi berupa sayur dan buah, perlu usaha sosialisasi atau ajakan, contoh, dan pengondisian yang menyenangkan anak.

Usaha sosialisasi pada anak bisa dengan membelikan buku tentang sayuran dan manfaatnya, kemudian ibu membacakan ceritanya. Ajak anak langsung melihat, memegang sayuran dan buah-buahan. Ajak ini mengupas, mencicipi dalam suasana menyenangkan. Jadikan kebiasaan makan buah dan sayur agenda penting dalam keluarga dan di sekolah. Hal ini merupakan bagian dari proses pranegosiasi. Jika sudah dilakukan prasyarat tadi, kecil kemungkinan anak menolak. Tapi jika masih mogok dapat dilakukan beberapa upaya, misal, memasukkan buah dan sayur dalam bentuk kue, puding, atau penganan lain. Membubuhkan sayur dalam potongan kecil dalam makanan kesukaan anak seperti nasi goreng atau mi goreng.

Negosiasi dalam hal makan bisa pada jumlah sayur dan buah atau jenis sayurannya misalnya sosialisasi bayam dan wortel saja dulu, yang lain menyusul. Bisa juga pada cara menghidangkannya, misal di jus seperti jeruk, pepaya, mangga, dan sebagainya.

Foto : freepik.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − 1 =