Cara Bernegosiasi dengan Si Prasekolah (1)

  1. Anak malas mandi, cuek dengan kebersihan diri. Padahal orangtua ingin anak tampil bersih, wangi, segar.

Solusi:

Bersih bukan berarti selamanya anak harus bersih dan  tidak boleh kotor karena bermain bisanya melibatkan eksplorasi lingkungan. Di sinilah anak belajar berinteraksi dengan lingkungan. Main bola, main sepeda, main petak umpet, manjat pohon, ada risiko jatuh dan badan kotor karena keringat dan debu.

Kebanyakan dari kegiatan bermain perlu mengembangkan kemampuan sensorik dan motorik yang akan bermanfaat dalam aspek tumbuh kembangnya kelak. Yang penting adalah setelah melakukan kegiatan yang dianggap kotor, biasakan anak membersihkan diri, misalnya mencuci kaki dan tangannya atau mandi jika kotor sekali.

Negosiasi dilakukan ketika semua syarat yang juga bisa dalam bentuk aturan tadi sudah dilakukan orangtua. Kemungkinan anak tidak melakukannya selalu ada, di sinilah perlu negosiasi untuk mengecek apakah anak lupa, sengaja, sedang malas  atau belum dilakukan? Misal, anak minta izin main bola di lapangan tanah belakang rumah, padahal hari sudah sore. Jawaban bisa boleh bisa tidak. Kalau jawabannya boleh, tentukan berapa lama bermain, Berikan pesan kalau sudah selesai langsung mandi, kondisikan anak untuk menepati janji dengan mengingatkannya kembali.

Kalau dibilang tidak boleh, kemungkinan anak marah harus diterima karena kecewa. Terima emosinya yang muncul. Jelaskan kenapa Anda melarang. Pikirkan kegiatan alternatif dan tawarkan. Jika anak menolak, minta dia mengusulkan kegiatan alternatif yang dia senang lakukan, minta anak untuk memilih salah satunya, atau orangtua yang memilihkan dengan persetujuan anak.

 

  1. Anak mengeluh malas sekolah, bahkan merasa sakit perut kalau hendak ke sekolah. Di sisi lain, orangtua ingin anak rajin sekolah dll.

Solusi:

Keluhan malas sekolah banyak dan sering dilontarkan anak pada orangtuanya. Cermati keluhannya, mengapa anak malas ke sekolah. Apalagi disertai keluhan sakit perut. Sebelumnya cek dulu apakah baru sekali ini ataukah sudah sering? Pertimbangkan informasi yang didapat ibu.

Jika tidak ada alasan apapun silakan bernegosiasi, terima keluhannya. Pahami suasananya yang membuat ia malas ke sekolah. Mendung? Capek ? Masih ngantuk? Atau ada hal lain di sekolah. Ajak anak melakukan kegiatan yang disukainya sebentar dengan tujuan anak senang dan semangat, sehingga termotivasi untuk sekolah. Jika diperlukan telpon guru untuk meminta izin datang agak terlambat karena perlu mengondisikan anak. Pahami bahwa usia pra sekolah adalah periode awal pengenalan tentang sekolah. Karena itu merupakan pijakan yang penting untuk memberikan  pengalaman yang menyenangkan tentang sekolah.

 

  1. Anak takut pada sesuatu, seperti mengalami fobia. Sedangkan, orangtua ingin anaknya pemberani, tidak penakut. Bagaimana cara bernegosiasi?

Solusi:

Hilangkan stimulus yang dapat menimbulkan ketakutan yang tidak jelas seperti fobia. Kemudian kenalkan secara perlahan dan bertahap. Di sisi lain rasa takut itu juga sebagian menjadi sarana  perlindungan diri bagi anak, misal: takut untuk menyeberang, takut ketemu orang baru, takut berada dalam sitasi yang asing dan banyak orang.

Sifat berani dalam konteks berani dan mampu sendiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari itu yang perlu dimunculkan, misalnya: berani bertanya, berani mencoba sesuatu yang baru, berani tampil di panggung, berani ke warung, jadi berani harus ada konteksnya. Pastikan lingkungan memang benar-benar aman untuk anak.

Negosiasi dilakukan jika semua kondisi sudah dilakukan. Kalau anak masih  merasa takut. Ajak dan kenalkan pelan-pelan. Bimbing dan dampingi dulu, setelah anak mendapatkan kepastian dirinya aman, atau yang dikhawatirkan itu tidak ada, pasti akan timbul keberanian. Yang penting, jangan pernah melabel anak dengan sebutan penakut. Justru sebaliknya yakinkan anak, bahwa ia pemberani.

Foto : freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + 19 =