Cara Bernegosiasi dengan Si Batita (3)

  1. Di suatu acara, anak ingin cepat pulang. Padahal orangtua masih ada pembicaraan penting dengan orang lain.

Solusi:

Pahami kebutuhan batita untuk bergerak dan bereksplorasi. Anak akan merasa bosan jika tidak ada aktivitas yang bisa dilakukan. Negosiasi dengan anak bisa diawali dengan mengenali dulu kondisi anak, apakah termasuk yang membutuhkan ekspresi gerak yang tinggi atau cenderung cukup dengan alternatif kegiatan di dalam ruangan.

Bawa perlengkapan anak untuk mengisi waktunya, sementara ibu bercakap-cakap dengan pihak lain. Sesekali berikan perhatian pada anak dengan bertanya “ Adek lagi bikin apa? Wah kapalnya bagus ya. Oh, ada bunyinya ya” dan lain-lain.

Kenalkan juga anak pada si empunya rumah, wakilkan anak untuk bicara pada tuan rumah. Misal,” Tante boleh enggak Adek ikut mama main di rumah tante ?”. Ingat, karena membawa si kecil, batasi waktu pembicaraan dan waktu kunjungan. Jadi negosiasi dimaksud untuk mengenalkan dan mengondisikan anak pada situasi yang kita harapkan.

 

  1. Si kecil overaktif dan tak bisa diam, seolah tak pernah kehabisan energi. Padahal orangtua ingin anak bisa anteng.

Solusi:

Bernegosiasi dengan tipe anak seperti ini memang sulit. Soalnya, anak memiliki kebutuhan lebih untuk bergerak. Berikan anak aktivitas, orangtua tak cukup hanya melarang tanpa memberikan penyaluran. Melarang saja tidak akan mampu membuat anak bertahan untuk tenang.

Karena itu, buat kegiatan yang mampu mengelola kebutuhan gerak anak. Pasalnya, ada anak yang memiliki kebutuhan bergerak lebih tinggi. Sebagian lagi cukup dengan kegiatan yang dapat dilakukan sambil duduk di ruangan.

Proses negosiasi bisa dilakukan di awal sebagai panduan. Ketika anak lupa, orangtua cukup mengingatkan. Belum tentu juga anak akan mampu berperilaku sesuai maunya orangtua karena adanya kebutuhan anak untuk bergerak secara alamiah. Jika ini terjadi, berikan alternatif di luar untuk bermain bola, misalnya.  Kesediaan orangtua memindahkan kegiatan pribadi keluar rumah bertujuan agar bisa memantau anak juga sebagai bentuk negosiasi.

 

 

  1. Si kecil tak diduga suka berkata kasar dan agresif misalnya memukul. Padahal orangtua ingin anaknya berkata baik, sopan, dan santun.

Solusi:

Pahami bahwa anak batita cuma meniru. Ia sendiri sering tak paham kata–katanya. Anak belajar dari lingkungan, apa yang dilihatnya akan dicerna langsung dan diekspresikan spontan ketika situasinya dianggap pas. Karena itu, jauhkan anak dari pemicunya.

Katakan perasaan orangtua ketika anak mengatakan kata tersebut. Ajarkan kata pengganti. Praktekkan bersama anak. Minta anak  mengulanginya sendiri, puji dan peluk anak ketika anak berhasil melakukannya.

Demikian juga dengan sikap agresif seperti memukul. Tidak perlu bereaksi berlebihan. Panggil anak. Nyatakan perasaan orangtua ketika anak bertingkah laku tidak patut. Batita belum tahu perilaku boleh dan tidak. Dengan ekspresi wajah marah pada anak saja biasanya sudah cukup membuat ia menangis karena takut atau merasa bersalah. Karena itu, cukup ajak anak ke tempat lain dan tenangkan.  Setelah itu, bawa ke tempat tadi, pandu anak untuk melakukan tingkah laku yang seharusnya. Ketika berhasil, ucapkan terima kasih dan peluk anak.

Foto: freepik.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve − five =