Cara Bernegosiasi dengan Si Batita (2)

  1. Si batita nempel kaya perangko pada mamanya. Maunya hanya main dan ditemani mama. Padahal, mama ingin anak bisa bersosialisasi, berteman dan bermain dengan teman-temannya.

Solusi:

Jika orangtua mendapatkan anak seperti ini, coba cari tahu, apa yang membuat ia merasa takut atau cemas kalau ditinggal. Bagi anak  batita, tempat yang nyaman dan aman adalah berada di dekat ibunya. Anak belum memiliki keterampilan mengikatkan diri (bonding) dengan orang lain selain ibu. Dari ibulah anak belajar keterampilan ini.

Pada kondisi seperti itu, ibu dapat saja membiarkan anak ikut atau melakukan kegiatan dengan ibu  dengan syarat tempat dan kegiatan aman bagi anak. Anak pun akan tetap merasa aman. Perlu persiapan ibu untuk membawa perbekalan makanan, mainan, dan keperluan anak lain.

Bisa juga ibu meninggalkan anak dengan kegiatannya dan menerima tangisannya setelah mendekap beberapa saat untuk menenangkan. Ibu bisa mengatakan maaf pada anak sebelumnya, sehingga ibu tetap bisa melakukan kegiatan yang harus dilakukan. Dengan syarat, anak tetap dapat melihat ibu melakukan sesuatu. Sebaliknya, ibu tetap dapat melihat anak. Artinya,  ibu dan anak tetap dapat berinteraksi.

 

  1. Si batita semau-maunya sendiri. Sekehendak sendiri. Sedangkan orangtua ingin anak dapat diatur, tidak semaunya sendiri.

Solusi:

Kondisikan dulu lingkungan tempat anak berkegiatan atau bereksplorasi. Pastikan semua barang ada tempatnya. Pastikan juga ibu memiliki aturan yang jelas dan mudah dilakukan anak.`Anak sebenarnya adalah makhluk kecil yang mudah diatur dan dibentuk. Tinggal upaya Anda untuk membuat segala sesuatunya menjadi teratur.

Yang paling mudah, lakukan dengan pembiasaan sehingga anak memiliki ritme teratur dalam tubuhnya; kebiasaan bangun pagi, mandi, makan, menyimpan mainan, handuk, sepatu, buku, dan lainnya. Semua itu perlu dukungan tempat dan aturan yang jelas dari orangtua. Jelaskan aturannya, dimana tempatnya, dan bagaimana caranya. Itu saja tidak cukup, penghargaan berupa pujian dan bentuk kasih sayang lain diperlukan untuk terus-menerus bisa membuat anak semangat. Perlu juga contoh nyata dari orangtuanya

 

  1. Ketika Anda dan anak berjalan-jalan ke mal, lalu si kecil memaksa masuk ke toko mainan dan ngotot minta dibelikan mainan. padahal Anda tidak merasa anak membutuhkannya dan di rumah sudah banyak punya mainan.

Solusi:

Cek dulu, adakah kesepakatan mengenai aturan pergi ke mal. Pastikan semua anggota keluarga tahu dan bersedia untuk mematuhinya. Jika ya, tentu akan lebih mudah. Ketika anak meminta masuk, coba tahan sebentar dan bertanya, “Adek mau kemana?” Dengarkan jawabannya. “Adek ingat, kan, dengan janji di rumah?” Tunggu responsnya.

Jika memaksa masuk, ingatkan lagi kesepakatannya. Kalau orangtua membolehkan masuk, disertai pesan “Hanya lihat-lihat saja ya karena Adek sudah punya di rumah”. Yang terjadi, biasanya anak tergiur setelah diizinkan melihat.

Bagi orangtua yang tidak tahan mendengar tangisan anak atau malu dengan orang sekitar, biasanya akan luluh dan membelikan anak. Karena itu, baiknya orangtua tetap fokus pada tujuan semula. Risiko anak nangis, tidak apa-apa. Jika semua tegas, anak akan paham. Jika sudah tenang, ucapkan terima kasih dan beri pelukan.

Foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × five =