Cara Bernegosiasi dengan Si Batita (1)

Menghadapi sikap atau perilaku anak, tak jarang membuat orangtua kewalahan. Misalnya, anak ngotot melakukan A, tapi orangtua ingin anaknya bersikap B. Alhasil, tidak ada titik temu karena masing-masing keukeuh pada pendapat sendiri. Nah, sebagai jalan tengah, orangtua dan anak perlu bernegosiasi.

Bernegosiasi adalah suatu strategi agar anak bisa bekerja sama, yaitu mau mendengarkan saran, permintaan, ataupun keberatan orangtua terhadap perbuatan/ tindakan anak. Caranya, melalui proses komunikasi dua arah yang aman dan nyaman bagi kedua pihak.

Negosiasi juga melibatkan pendekatan situasional dan pengondisian lingkungan sekitar. Tentu menjadi kewajiban orangtua sebagai pendidik dan pengasuh untuk memberi arahan baik itu berupa nasehat, permintaan, pelurusan, sebagai panduan berperilaku, maupun pernyataan harapan yang disampaikan melalui percakapan dan contoh sehari-hari. Orangtua juga dituntut memberi lingkungan yang baik bagi tumbuh kembang anak.

Bernegosiasi dengan anak bisa dilakukan di awal untuk antisipasi, di tengah ketika anak meminta sesuatu, dan di akhir untuk memberikan pembelajaran. Meski begitu, negosiasi di awal jauh lebih baik untuk menghindari ketegangan dan situasi yang tak diharapkan. Untuk hasil yang lebih baik, dalam bernegosiasi perlu pengetahuan atau informasi minimal mengenai apa, mengapa, dan untuk apa anak menginginkan/melakukan perbuatan tersebut.

Mengapa perlu negosiasi? Agar anak tahu apa yang orangtua harapkan sehingga ia memiliki panduan boleh/tidaknya melakukan sesuatu berdasar sudut pandang orangtua, tanpa merasa dilarang, ditekan, atau diperintah. Terutama, hal ini penting bagi anak yang menginjak usia remaja. Bagi anak yang berusia lebih muda atau masih kecil, biasanya masih penurut. Kebiasaan bernegosiasi dapat melatih kemampuan anak untuk membiasakan diri sejak dini berpikir memilih dan mengambil keputusan. Berikut beberapa contoh kejadian dan bagaimana cara kita bernegosiasi dengan anak:

USIA BATITA

  1. Sedikit-sedikit nangis. Dilarang melakukan sesuatu nangis, diminta melakukan sesuatu nangis. Ini membuat orangtua kesal karena serba salah menghadapinya. Di sisi lain, orangtua ingin anak tidak cengeng.

Cara negosiasi:

Jika Anda mendapati anak rewel,cengeng, sedikit-sedikit nangis, pahami ia sedang berada di tahapan perkembangan emosi. Orangtua yang paham akan cenderung lebih menerima kondisi anak. Tidak merasa anaknya cengeng, menerimanya sebagai bagian dari perkembangan yang harus dipenuhi kekurangannya.

Maka terima tangisnya, berikan pelukan. Jika anak meronta, biarkan sejenak, tatap matanya dengan kasih sayang, bicara dengan suara rendah, kalau perlu bicaralah dekat telinganya. Sebutkan emosi yang mungkin dirasakan anak, contoh: “ Adek marah?”, “Adek enggak suka ya?” atau “Adek mau apa?”. Nangis itu gejala yang tampak. Pasti ada sebab mengapa anak menangis. Itu yang perlu Anda gali agar paham situasi.

 

  1. Si batita selalu ingin ditemani. Ibu tak boleh melakukan apa-apa. Padahal, ibu harus membereskan rumah, masak dan aktivitas lainnya. Termasuk bagi ibu bekerja yang tentu tak bisa menemani si kecil sejak pagi hingga sore. Bagaimana bernegosiasi agar anak mau “melepas” orangtuanya?

Solusi:

Banyak luangkan waktu dengannya karena anak sedang belajar membangun relasi dengan orang lain. Orang pertama yang menjadi dasar kepercayaannya adalah ibu. Jadi hadirkan diri secara fisik. Tunjukkan perhatian. Fokus pada anak. Kesampingkan dulu yang lain.

Beraktivitaslah dulu dengan anak, misal membacakan buku cerita, menonton  film kartun kesukaan, menyuapi dulu, seraya bercakap-cakap. Dengarkan kata-katanya. Setelah tenang, katakan ibu akan melakukan sesuatu. Latih anak untuk berpisah dengan ibu setahap demi setahap. Ajak anak untuk melihat sendiri ibu pergi dan menghilang dari pandangannya. Wajar ketika anak masih menangis.

Yang lebih penting, ada seseorang yang menjaga keamananannya dan kepada siapa anak dapat meneruskan tangisnya.  Tunjukkan bahwa ibu patut dipercaya. Ketika ibu selesai mengerjakan sesuatu atau datang kembali, cari  anak dan katakan ibu sudah pulang. Ekspresikan rasa senang ibu bertemu kembali dengan sang buah hati.

Foto: freepik.com

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 + twenty =