Bila Anak Punya Rasa Peduli Sejak Dini, Ini Plus Minusnya!

Rasa peduli memang tidak muncul tiba-tiba dalam diri seseorang. Akan tetapi, kepedulian itu harus ditanamkan dan dipupuk sejak dini.

Kepedulian adalah sikap atau perilaku positif  untuk membantu pihak lain agar  merasa lebih baik. Sikap peduli ini  didasari dan dikembangkan dari kemampuannya untuk berempati yang merupakan bagian dari kecerdasan emosi. Nah, kecerdasan emosi merupakan dasar/ landasan /elemen penting dalam mengembangkan kepedulian anak.

Agar anak memiliki keahlian berempati maka ia harus mampu memerhatikan, memahami dan menghargai apa yang sedang dirasakan/dialami orang lain. Empati belum tentu peduli. Agar empati bisa berkembang menjadi sikap peduli butuh stimulasi dari orangtua dan pendidik yang berkesinambungan, konsisten dilakukan dan penuh kesabaran.

Peduli merupakan kelanjutan dari empati yang mendorong seseorang untuk bersikap positif atau memberikan manfaat/meningkatkan kualitas hidup orang lain, bisa dalam bentuk bantuan tenaga, pemikiran, waktu, materi dan emosi. Nah, untuk memiliki sikap peduli, seseorang harus mempunyai kemampuan untuk merasakan, mendengar, bertanya dengan tepat dan bebas dari prasangka atau asumsi.

 

Ajarkan Dulu Empati

Maka sebelum memiliki perilaku peduli, ajarkan anak kemampuan berempati sedini mungkin. Pemahaman dan kemampuan ini merupakan hasil dari beragam kemampuan sosial dan emosional yang bisa dikembangkan sejak tahun pertama kehidupan anak.

Beragam penelitian menunjukkan, anak usia 6 bulan sudah tahu mana sikap baik dan buruk dan anak usia 18 bulan sudah bisa menunjukkan sikap peduli dengan memberi bantuan, misal mengambilkan buku yang jatuh.

Membangun hubungan yang kuat, nyaman, penuh kasih sayang dengan anak merupakan landasan utama dari membangun empati. Anak merasa diterima, dipahami dan disayang. Anak juga melihat orangtua atau orang terdekat sebagai panduan sosial (social referencing).

Misal, ketika ada tamu ke rumah, bagaimana orangtua berinteraksi dengan tamu akan memengaruhi bagaimana si kecil yang berusia 6 bulan menanggapi tamu itu. Ketika orangtua bersikap ramah dan baik maka anak akan merasa hal yang sama dan bersikap nyaman.

Kemudian, anak usia 18-24 bulan sudah memiliki perasaan, pemikirian, dan keinginan. Tugas orangtualah untuk terus membangun kesadaran dan pemahaman akan hal ini. “Orangtua dan pendidik harus sabar dalam mengembangkan kemampuan empati agar anak bisa memiliki perilaku peduli. Anak menjadikan orangtua sebagai patokannya untuk bertindak.”

Biasanya anak mulai memahami dan mampu berempati pada usia 8-9 tahun. Jika kemampuan mental dan emotional state ini distimulasi terus maka akan menjadi dasar untuk mengembangkan perilaku peduli yang bisa berkembang ketika berusia kelas 3 SD.

 

Segudang Manfaat

Lalu, apa manfaatnya bila kita mengasah kepedulian anak? Anak yang peduli akan:

  • Berusaha bertanya apa yang diinginkan dan dirasakan orang lain
  • Mampu mendengar dengan lebih baik;
  • Mampu memerhatikan pihak lain juga lingkungan;
  • Mampu berbagi sehingga membuat orang merasa senang;
  • Bersedia membantu pihak lain sehingga meringankan beban;
  • Bersikap baik, saling menghargai dan menghormati, saling mendukung untuk suatu hal yang membawa kebaikan;
  • Bisa membangun hubungan baik dengan pihak lain dan selalu berusaha bertindak baik;

 

Selain itu, manfaat lainnya adalah kehidupan menjadi lebih baik, merasa nyaman, saling menghargai perbedaan, memahami permasalahan yang sebenarnya dan bisa mengetahui penyebab serta menemukan solusi yang membawa kebaikan bagi semua pihak.

“Sikap peduli tidak saja membuat anak merasa happy,pihak lain happy juga. Bayangkan juga dunia yang indah ini diisi oleh orang-orang yang memiliki sikap peduli?”

 

 

Dampak bila ada kurang kepedulian:

  • Anak akan bersikap kasar dan menjadi destruktif karena emosi negatif anak tidak terlatih untuk dipahami atau tidak dilakukan validasi dan perasaan anak selalu diperbaiki oleh orangtua;
  • Ketika emosi negative tidak dipahami maka emosi akan tersimpan di dalam fisik dan jiwa anak. Hal ini akan menganggu perilaku anak atau menghambat perkembangan fisik dan emosi;
  • Menurunkan daya tahan tubuh anak;
  • Anak menjadi tidak bisa bekerja sama dengan baik;
  • Mudah dipengaruhi orang lain karena ingin dirinya diterima oleh lingkungan misal jadi ikut-ikutan tawuran;
  • Bisa menjadi pelaku dan korban bully;
  • Bersikap egois, mau menang sendiri dan mau menang apapun caranya yang penting menang.

(hil)

Foto:freepik.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 × five =