Anak Praremaja, Apa Saja Tantangannya? (1)

Anak menemukan persoalan dalam lingkungan pergaulannya. Bagaimana cara mengatasinya?

 

Anak usia praremaja merupakan tahap awal dari perkembangan menuju usia remaja. Pada usia ini, anak akan mengalami masa transisi antara masa kanak-kanak ke remaja (adolescence). Tahap ini juga sering disebut sebagai tahap usia sekolah, karena anak banyak menghabiskan waktu sehari-hari di sekolah. Tahap ini biasanya ditandai dengan kebutuhan anak untuk menjalin hubungan dengan teman yang mempunyai jenis kelamin sama, kebutuhan untuk mempunyai sahabat yang dapat dipercaya, serta mempunyai kebutuhan untuk membangun hubungan dengan teman sebaya yang memiliki kesamaan dengannya.

Pada usia ini anak mulai mengalami peningkatan dalam kemandirian serta fleksibilitas untuk dapat bekerja sama yang saling menghargai dan menguntungkan. Anak mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan teman sebayanya serta mulai melakukan hal-hal kecil secara mandiri, misalnya membuat minuman/makanan sendiri.

Mereka juga mulai lebih realistis, seimbang, serta lebih mampu mengekspresikan diri secara sadar. Anak mulai membentuk, mengikuti atau mencoba masuk ke kelompok tertentu yang mewakili dirinya pada saat itu. Mereka pun mulai menyenangi/ mempunyai penyanyi favorit atau kegiatan tertentu misalnya bernyanyi, olahraga, atau menari. Pun mereka mulai memusatkan perhatian pada diri sendiri, khususnya mulai memperhatikan diri mereka secara fisik.

PILIH TEMAN SEBAYA

Seiring perkembangannya, anak usia ini akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersama teman-temannya. Kemampuan sosialisasinya kelak akan membentuk dan mengajari mereka bertingkah laku di dalam lingkungan. Mereka akan mempelajari keterampilan dalam berbicara, bergaul/bersikap, berpakaian/berpenampilan, dan sebagainya. Keterampilan yang dipelajari ini sudah pasti berbeda dengan keterampilan yang sudah didapatkan di rumah.

Anak di usia praremaja mulai membandingkan dan menilai apakah perilaku mereka yang selama ini diperoleh dari didikan di rumah sudah sesuai dengan perilaku yang ada di luar rumah. Anak mulai menentukan kesesuaian diri mereka dan mencoba untuk beradaptasi dengan nilai-nilai yang ada dalam lingkungan teman sebaya. Pada saat inilah peran teman sebaya sangat penting.

Namun ingat, teman sebaya dapat memberikan manfaat yang positif maupun negatif. Hal ini bergantung pada proses penerimaan anak dalam menghadapi perbedaan. Sebaiknya ia sudah memiliki nilai-nilai dasar yang kuat untuk membentengi diri dari pengaruh negatif.

Beberapa manfaat yang didapat dengan adanya teman sebaya adalah proses pembelajaran sosial. Anak mulai mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana harus berbagi dan menerima perbedaan di dalam kelompok. Ia juga belajar tentang kejujuran, keadilan, kerja sama serta tanggung jawab. Selain itu ia jadi mengetahui bahwa ada peran-peran sosial yang berbeda dengan yang selama ini diketahui, seperti menjadi pemimpin, anak buah, sahabat dan lain sebagainya.

Saat anak mulai memilih untuk mengikuti atau membentuk kelompoknya sendiri, umumnya memilih teman sebaya dengan jenis kelamin yang sama. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk berteman dengan jenis kelamin berbeda.

Selain itu, anak praremaja juga suka membentuk kelompok yang beranggotakan anak yang popular. Mereka mulai saling memilih teman yang sesuai dengan nilai kelompok mereka. Pemilihan ini memberi peluang kepada anak untuk menjadi yang popular atau tidak. Pada umumnya, anak akan memilih teman sebaya untuk mendapatkan sahabat yang bisa dipercaya, teman yang bisa diajak untuk bekerja sama dalam mengerjakan tugas maupun untuk berbagi cerita dan saling membantu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Nah, anak yang popular biasanya dipilih menjadi anggota kelompok karena mereka cenderung tidak memiliki masalah dalam proses sosialisasi serta mampu berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Anak yang tidak popular cenderung mengalami masalah dalam perkembangan sosialisasinya. Mereka tidak disukai oleh teman-temannya karena beberapa hal, seperti cenderung bersifat mengganggu, egois dan kurangnya sifat positif. (hil)

Foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − 13 =