Anak Jago Kandang? Ini Cara Menghadapinya (1)

“Kenapa ya, anak saya kalau di rumah berani dan bawel. Tapi kalau di sekolah justru sebaliknya. Ia pendiam, tak mau bicara, kalau diminta gurunya untuk maju ke depan kelas, dia tidak mau. Apakah anak saya termasuk jago kandang?”

Ya, tak sedikit orangtua yang mengeluhkan tentang anaknya yang berperilaku berbeda antara di rumah dengan di luar rumah seperti sekolah. Sebelum mengupas tentang istilah jago kandang, ada baiknya kita ketahui seklas bagaimana perkembangan psikologi seorang anak.

Pada usia 3 tahun anak mulai mengembangkan keterampilan sosial. Si kecil sudah menunjukkan minat untuk berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan teman-teman seusianya. Selanjutnya, ketika anak sudah memasuki sekolah maka kebutuhan berinteraksi akan semakin tampak terlihat.

Namun, masing-masing anak berbeda dalam upaya berinteraksi ini. Ada anak yang bisa dengan cepat berinteraksi. Ada juga anak yang butuh waktu lebih lama dalam berinteraksi dengan lingkungan baru.

Nah, jago kandang merupakan istilah yang sering digunakan pada anak yang berani melakukan banyak hal di dalam lingkungannya sendiri seperti di rumah. Akan tetapi, ia takut melakukannya jika di luar lingkungan rumah. Hal ini bisa saja terjadi karena anak merasa nyaman dan aman ketika berada di lingkungan rumahnya sehingga anak mampu mengekspresikan dirinya secara bebas.

Nah, ada dua faktor yang menyebabkan anak menjadi sosok yang jago kandang, yaitu:

  1. Faktor internal. Misalnya, kepribadian dan karakter anak tersebut. Anak yang memiliki kepribadian tertutup, pendiam dan sulit beradaptasi biasanya berpotensi besar menjadi anak yang jago kandang.
  2. Faktor eksternal. Misalnya, pola pengasuhan yang juga memiliki pengaruh yang cukup besar.

Pola asuh dan lingkungan sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Tanpa disadari pola pengasuhan yang orangtua terapkan justru membentuk anak menjadi anak yang “jago kandang”. Jika hal ini dibiarkan maka akan berdampak pada perkembangan psikologis dan sosial anak. Anak yang jago kandang biasanya memiliki kepercayaan diri yang rendah. Ia tidak mampu memahami situasi lingkungan sosialnya, merasa terancam dan tidak aman (insecure) ketika berada di luar lingkungan rumah sehingga ia memilih untuk diam.

Ada tiga model pola pengasuhan dalam mendidik anak. Pertama, model Authoritarian adalah gaya pengasuhan yang menekankan kontrol pada orangtua (parent oriented). Pada model pengasuhan ini orangtua memegang kendali yang sangat tinggi, berfokus pada aturan dan disiplin yang telah ditetapkan, cenderung kaku dan sedikit menunjukkan rasa cinta terhadap anak.

Kedua, model Permissive yaitu gaya pengasuhan yang menekankan kebebasan yang berekspresi dan pengaturan diri anak (children centered). pada model pengasuhan ini kontrol berada pada anak, orangtua menunjukkan rasa sayang yang tinggi terhadap anak dengan cara memberikan kebebasan dan mengikuti segala keinginan anak. pada pola pengasuhan model ini aturan dan disiplin yang diterapkan cenderung rendah.

Ketiga, model pengasuhan Authoritative adalah gaya pengasuhan dimana orangtua respek terhadap apa yang dilakukan anak dan memberikan kebebasan dalam menanamkan nilai-nila sosial. Pada pola pengasuhan ini orangtua menunjukkan rasa cinta yang tinggi terhadap anak tetapi juga diikuti dengan aturan dan disiplin yang tinggi. Anak diberi kekebasan untuk mengungkapkan pendapat dan keinginannya. Biasanya pada pengasuhan model ini akan terjadi negosiasi antara anak dan orangtua untuk menemukan win-win solution.

Foto: freepik.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 − 10 =