12 Cara Membangun Karakter Anak yang Bertanggung Jawab

Kita perlu memahami bahwa sebenarnya tidak ada manusia yang terlahir dengan karakter tanggung jawab. Karakter tanggung jawab harus ditanamkan, dipupuk, dievaluasi dan seterusnya, melalui proses yang berkesinambungan. Ketika individu ‘lulus’ untuk menjalankan tanggung jawab dalam skala kecil, ia kemudian akan dipercayakan tanggung jawab dalam skala yang semakin besar.

Tanggung jawab adalah bentuk kesadaran dan perilaku moral yang teramat penting. Seseorang yang bertangung jawab memiliki kesadaran bahwa ia wajib menanggung segala sesuatu, yang telah dipercayakan kepadanya atau yang merupakan dampak dari pilihan dan keputusannya.

Di sepanjang kehidupan, setiap individu perlu memahami bahwa ketika ia mengambil sebuah keputusan, ada konsekuensi yang melekat pada keputusan tersebut. Dalam kenyataannya, tak semua orang dewasa mampu bersikap matang dalam menerima konsekuensi dari keputusannya. Misal, ketika  memutuskan untuk mencicil mobil, namun tidak disiplin dalam mengelola keuangan, sehingga cicilan tertunggak; atau ketika memilih sebuah jurusan pendidikan, namun di tengah jalan merasa tidak betah karena merasa sulit. Lalu, meninggalkan begitu saja program pendidikannya.

Perlu kita tahu, tanggung jawab juga melekat dengan kepercayaan. Semakin seseorang dipercaya, semakin besar tanggung jawab yang akan diberikan kepadanya. Ketika seseorang dilatih tanggung jawabnya maka karakter pengendalian diri, ketekunan, komitmen, kepercayaan diri juga turut dilatih.

Intinya karakter tanggung jawab sangat penting. Karena itu, orangtua, sebagai pihak utama dan pertama yang ‘dititipkan’ anak,  berkewajiban untuk membangun karakter bertanggung jawab pada buah hatinya.

 

LATIH SEJAK DINI

Lalu, kapan waktu terbaik untuk mulai membangun karakter tanggung jawab? Semakin dini sebuah perilaku moral dibangun maka akan semakin tertanam. Melatih tanggung jawab dapat dimulai sejak anak sudah cukup bisa berkomunikasi dengan orangtuanya, biasanya ketika menginjak usia 3 tahun.

Cara belajar yang khas pada anak-anak usia balita adalah dengan cara melihat dan melakukan. Berbeda dengan anak yang lebih besar, anak balita tidak perlu diyakinkan terlebih dahulu untuk melakukan sesuatu. Ia akan langsung mencontoh saja. Karena itu, cara terbaik untuk membentuk kebiasaan tanggung jawab anak adalah dengan cara memberi contoh berulang-ulang dan membimbing anak untuk bersama-sama melakukannya. Misal, ketika selesai bermain bersama, orangtua bersama-sama anak memasukkan barang-barang ke kotak mainan.

Perlu kita tahu, anak usia balita juga akan cepat belajar jika orangtua membentuk pola atau sistem yang konsisten. Maka sangat penting bagi orangtua memilihkan ruang main yang tetap, jam main yang sama, kotak penyimpanan mainan yang sama. Ketika anak secara berulang-ulang memerhatikan  ada  satu pola yang konsisten maka akan terbentuk pola tanggung jawab. Hal ini akan diteruskannya hingga ke usia selanjutnya.

Anak di usia balita hingga TK biasanya dilatih bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan fisik pribadi. Misal, menggosok gigi setiap habis makan, mengganti baju, menghabiskan makan yang dimintanya, mandi sendiri, tidur sendiri.

Nah, orangtua dalam hal ini perlu ekstra sabar dan tidak perlu terlalu menuntut kualitas dari kegiatan tersebut. Misal, orangtua perlu bertoleransi jika ketika makan belum bisa terlalu bersih dan tetap mengapresiasi kemauan anak untuk makan sendiri. Lambat laun, seiring anak meningkat ke usia SD, o rangtua dapat melatih tanggung jawabnya terhadap hasil/kualitas dari kegiatan mandiri anak.

 

Lalu, ketika anak beranjak ke tingkat SD awal, orangtua dapat melebarkan tanggung jawab anak untuk memelihara barang-barang pribadinya. Misal, meletakkan tas sekolah dan sepatu dengan rapi, memasukkan baju-baju ke lemarinya sendiri dengan rapi. Anak usia SD sudah bisa dilatih tanggung jawabnya untuk lebih memerhatikan kualitas kegiatannya. Misal, tidak hanya mengenakan baju seragam sekolah sendiri, namun juga mengenakannya dengan rapi.

Di tingkat SD awal ini, orangtua dapat mengedukasi anak bahwa ada konsekuensi yang harus ditanggung bila tidak melakukan kewajibannya. Misal, jika melupakan PR atau lupa membawa bekal. Biasanya pihak sekolah juga tidak mengizinkan orangtua untuk menyusulkan barang-barang sekolah yang tertinggal. Sebab itu, anak usia SD sudah bisa diedukasi untuk lebih inisiatif dalam memeriksa ulang peralatannya kembali.

Selanjutnya, ketika anak menginjak SD kelas 3, ia sudah bisa dilatih bertanggung jawab membuat perencanaan kegiatan jangka pendek. Misal, dalam beberapa hari ke depan, untuk persiapan ulangan yang bersamaan dengan jam-jam kursus lainnya, latih anak untuk membuat chart sederhana yang berisi jadwal kegiatan.

Kemudian, ketika anak menginjak SD akhir, ia mesti semakin dilatih untuk menanggung konsekuensi dari tanggung jawab pribadinya. Biasanya anak SD di tingkat akhir sudah meminta fasilitas tertentu, seperti alat main game atau handphone. Didik anak bahwa ada kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan bersama dengan fasilitas tersebut.

Jika si anak tidak dapat menjaga kepercayaan itu, akses terhadap fasilitas tersebut seharusnya dikurangi atau dicabut. Konsekuensi yang harus dipikul anak ini harus dikomunikasikan sejak awal sebelum fasilitas itu mulai dipergunakan anak. Buat aturan main yang jelas juga mengenai jam, waktu, tempat penggunaannya.

 

12 PRINSIP PENTING

Nah, berikut ini adalah prinsip membangun karakter tanggung jawab anak:

  1. Ketika anak masih di usia TK, tanggung jawab diarahkan untuk melakukan sendiri kegiatan fisik dengan memberikan toleransi kepada kualitas yang sesuai usia.
  2. Ketika anak menginjak usia SD, tanggung jawab diarahkan ntuk melakukan kegiatan sekolah dengan mandiri dengan kualitas yang lebih baik.
  3. Ketika orangtua mengajarkan mengenai perilaku tanggung jawab tertentu, selalu sampaikan alasan (why) yang ada di balik perilaku tersebut, khususnya alasan moral. Misal, tugas kelompok harus dikerjakan sesuai deadline yang ditetapkan guru. Jika tidak, keterlambatan tersebut akan merugikan seluruh kelompok. Alasan moral yang ada dibalik sebuah perilaku bertanggung jawab akan membuat anak paham bagaimana dampak perilakunya terhadap orang-orang di sekitarnya.
  4. Pastikan bahwa kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan sudah sesuai dengan usia anak. Misal, kepercayaan untuk berjejaring sosial. Orangtua pelajari dulu batas minimumnya sehingga dipastikan bahwa kepercayaan sesuai dengan tahapan usia anak.
  5. Melatih tanggung jawab juga dapat diberikan bersamaan dengan fasilitas. Misal, HP hanya bisa digunakan untuk SMS atau menelepon. Sebelum HP diserahkan, edukasi dulu anak mengenai fungsi, benefit dan cara menjaga fasilitas tersebut.
  6. Berikan batasan dan instruksi yang jelas, terkait dengan waktu, durasi, tempat sehingga anak mudah untuk menjalankan komitmennya. Di lain pihak, orangtua juga akan lebih mudah mengevaluasi perilaku tanggung jawab anak jika batas-batasnya jelas.
  7. Beri ruang untuk toleransi. Jika pada suatu waktu, anak tidak mampu menuntaskan tanggung jawab sesuai targetnya, dengankan penjelasan anak terlebih dahulu. Misal, seharusnya anak tidur jam 22.00, namun suatu saat karena banyak PR maka ia sampai tidur lewat jam 23.00. Orangtua perlu menggali lebih dulu situasinya. Ruang toleransi ini diperlukan untuk melatih kebijaksanaan anak agar tidak terjebak kepada pelaksanaan sebuah peraturan secara kaku ‘hitam putih’, namun dapat beradaptasi sesuai dengan tuntutan konteksnya.
  8. Hindari ‘menyelamatkan’ anak dari konsekuensi dari tindakan mereka. Biarkan anak mempertanggungjawabkan perbuatannya ketika ia terlambat bangun sehingga terlambat datang ke sekolah, lupa membawa PR. Konsekuensi yang ia terima akan membuat tanggung jawabnya lebih terbentuk.
  9. Selalu dorong perilaku bertanggung jawab anak dengan kata-kata positif, semangat, pujian. Bangun suasana yang fun juga saat melatihkan sebuah tanggung jawab.
  10. Berikan konsekuensi yang jelas saat anak tidak melakukan tanggung jawabnya. Konsekuensi ini dikomunikasikan dulu di awal sehingga anak dapat menerimanya dengan baik.
  11. Sesekali ajak anak ikut saat orangtua sedang bekerja. Biarkan anak melihat bagaimana Anda melakukan tanggung jawab Anda dengan bahagia..
  12. Tidak ada cara yang lebih baik mengajarkan perilaku bertanggung jawab dibandingkan secara konsisten memperlihatkan perilaku bertanggung jawab di hadapan anak.

Foto: freepik.com/ Prakasit Khuansuwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 − eight =