10 Masalah Kesehatan pada Anak yang Ditandai Sakit Perut

Anak sakit perut tentu tak bisa dianggap sepele. Sakit perut belum tentu berarti perutnya kembung atau mengalami diare. Sakit perut yang dialami Si Kecil bisa menunjukkan masalah kesehatan tertentu. Lalu, masalah kesehatan apa sajakah yang ditandai dengan sakit perut? Berikut ini penjelasan dr. Meta Hadininta, Sp.A dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

  1. Konstipasi

Sembelit atau konstipasi adalah gangguan buang air besar (BAB) ditandai keluarnya tinja yang sulit, keras, tidak basah dengan ukuran lebih besar dari biasanya atau frekuensi BAB kurang dari 3 kali seminggu.

Sembelit dapat disebabkan gangguan anatomis, masalah syaraf, obat-obatan atau faktor metabolik seperti kurangnya hormon tiroid. Namun lebih dari 95% sembelit pada anak di atas satu tahun adalah konstipasi fungsional yang berawal dari kurangnya makanan berserat, kurang minum atau kurangnya aktivitas.

Sembelit bisa dikuti dengan nyeri perut, nyeri saat BAB, turun atau hilangnya nafsu makan, turunnya berat badan, rembesan tinja pada celana dalam (soiling), kembung, buang angin berlebihan sampai bercak garis darah yang menempel pada tinja.

Anak yang mengalami sembelit harus dilatih untuk membangun kebiasaan BAB yang baik. Misalnya, membiasakan Si Kecil duduk di toilet secara teratur sekitar 5 menit usai makan pagi, meski ia tak merasa ingin BAB. Anak juga harus belajar untuk tidak menahan keinginan BAB.

Selain itu, makanan tinggi serat penting untuk anak sembelit. Serat membuat BAB lebih lunak karena menahan lebih banyak air sehingga lebih mudah dikeluarkan. Perbanyak jumlah serat untuk anak dengan buah, sayur, roti gandum sebagai ganti roti putih atau sereal tinggi serat seperti oatmeal dan wheat.

Kapan anak sembelit harus dibawa ke dokter? Pada umumnya, kasus sembelit pada anak dapat membaik sendirinya. Walaupun begitu pada beberapa keadaan, segeralah bawa anak ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Keadaan tersebut di antaranya:

  1. Sembelit bertahan lebih dari 2 minggu.
  2. Terdapat darah pada tinja.
  3. Berat badan anak menurun.
  4. Terdapat nyeri berat saat anak BAB.

 

  1. Flu perut (GE)

Flu perut atau gastroenteritis biasanya ditandai dengan diare. Diare atau mencret adalah kondisi dimana anak BAB dengan konsistensi lembek atau cair, dan frekuensinya lebih sering (biasanya 3x atau lebih) dalam sehari.

Secara klinis, penyebab GE ini bisa dikelompokkan menjadi 6 golongan besar. Infeksi (virus/bakteri/parasit), malabsorbsi, keracunan, alergi, imunodefisiensi, dan sebab lainnya.

Ada program pemerintah untuk menuntaskan diare pada anak, bernama Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare). Langkah-langkah tsb adalah:
1. Berikan oralit
2. Berikan tablet Zinc selama 10 hari berturut-turut
3. Teruskan ASI dan makan
4. Berikan antibiotika selektif, hanya untuk infeksi bakteri.
5. Nasihat pada ibu/keluarga. Nasihat tentang tanda dehidrasi, bagaimana menjaga kebersihan supaya mencegah diare, dll.

 

Kapan anak GE harus dibawa ke rumah sakit?

  1. Jika anak tidak mau minum dan tetap diare atau muntah.
  2. Anak dengan diare yang sangat banyak (8-10 kali atau 2-3 kali dalam jumlah sangat banyak) atau diare berlangsung lebih dari seminggu.
  3. Anak muntah terus-menerus tidak bisa minum.
  4. Anak dengan gejala dehidrasi.
  5. Orangtua khawatir dengan kondisi anak.

 

  1. Alergi makanan

Alergi makanan adalah respons abnormal sistem imun tubuh terhadap protein makanan .Alergi makanan dapat menimbulkan gejala sistemik saluran cerna seperti nausea (rasa tak nyaman di perut/mual), muntah, diare, kembung, sering kentut, kolik dan konstipasi menahun. Demikian juga nyeri perut.

Sebagai upaya penanganannya, setelah diagnosis alergi makanan ditegakkan, eliminasi makanan harus dilakukan dengan ketat. Penghindaran secara ketat harus dilakukan juga oleh keluarga pasien dalam menghindarkan serta membantu untuk mencarikan makanan pengganti sehingga terpenuhi makanan yang rasanya enak dan disukai anak.

  1. Keracunan makanan.

Keracunan makanan bisa terjadi saat makanan atau minuman terkontaminasi dengan kuman berbahaya, racun atau bahan kimia dimakan/diminum oleh anak. Biasanya gejala yang muncul adalah mual, muntah, diare serta nyeri perut. Penanganannya adalah mencegah dehidrasi

Lalu kapan ke dokter? Berikut di antaranya:

  1. Anak masih berusia di bawah 6 bulan
  2. Anak memiliki penyakit khusus seperti diabetes, riwayat lahir prematur, dll.
  3. Demam tinggi
  4. Menunjukkan tanda dehidrasi
  5. Jika anak tampak malas, tidur terus atau malas minum
  6. Nyeri perut yang dirasakan sangat mengganggu
  7. Jika orangtua khawatir

 

  1. Kolik

Kolik biasanya terjadi di mulai dari usia 3 minggu setelah lahir sampai usia 4 bulan. Kolik terjadi minimal 3 hari dalam seminggu. Lalu, bisa berlanjut bisa sampai 3 minggu.

Adapun penyebab paling sering anak mengalami kolik adalah:

  • GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), naiknya asam lambung bayi.
    1. Bayi lebih kesakitan saat dalam posisi tidur
    2. Bayi merasa lebih nyaman saat diposisikan kepala lebih tinggi
  • Sensitif terhadap makanan ibu menyusui
    1. Produk dairy
    2. Telur
    3. Bumbu yang kuat rasanya, seperti bawang
    4. Makanan/minuman mengandung kafein
  • Alergi terhadap susu formula

Biasanya saat kolik, anak akan langsung dibawa ke dokter. Dokter akan segera mencaritahu penyebabnya.

 

  1. Usus Buntu

Appendicitis terjadi saat usus buntu bengkak dan terinflamasi (mengalami radang). Sering kali terjadi karena adanya blockage (hambatan) yang menyebabkan rentan terkena infeksi.

Akan tetapi, penyebab pasti usus buntu sampai sekarang belum diketahui. Gejala lain yang menyertai di antaranya selain demam, kehilangan napsu makan, mual. Muntah, nyeri perut bagian kanan, bisa juga konstipasi atau diare.

Adapun upaya penanganannya adalah dengan operasi.

 

  1. Intestinal gas

Intestinal gas atau meteeorismus adalah suatu keadaan dimana udara terakumulasi pada saluran cerna anak dan menyebabkan adanya distensi (gas/cairan yang menumpuk) pada abdomen (perut). Istilah lainnya kembung.

Penyebabnya bisa bermacam-macam. Misalnya karena ada intoleransi laktosa atau malabsorbsi (gangguan penyerapan). Adapun ciri-cirinya sangat tergantung pada apa penyebabnya. Meteorismus ini hanya gejala. Penanganan dan kapan harus ke dokter juga tergantung apa yang menjadi penyebabnya.

 

  1. Terlalu banyak makan

Overeating atau terlalu banyak makan memang dapat menyebabkan nyeri perut karena makanan belum sempat diproses dan dicerna dengan baik oleh saluran cerna. Cirinya tentu nyeri setelah banyak makan.

Penanganannya adalah membatasi porsi, jenis makanan yang sehat dan mengatur jam makan. Jika terlanjur terjadi mengalami sakit perut, coba minum air putih yang cukup dan hindari makan beberapa jam setelahnya.

 

  1. Mabuk kendaraan

Di masa perkembangan anak, beberapa dari mereka umumnya mengalami sakit perut saat naik kendaraan, meski dalam jarak yang sangat dekat.

Motion sickness ini dapat terjadi saat otak menerima sinyal yang membingungkan dari berbagai bagian tubuh berkaitan dengan gerakan. Pada saat kendaraan bergerak, sinyal yang diterima terkadang tidak konsisten. Misalnya, saat kita melihat balapan mobil di televisi, mata merasakan gerakannya, tapi telinga tengah (yang mengatur keseimbangan) dan sendi tubuh tidak. Otak akan mengaktivasi respons yang membuat kita mabuk.

Anak kecil saat di dalam kendaraan biasanya tidak bisa melihat keluar, sehingga mata tidak dapat merasakan gerakan, tapi telinga tengah bisa. Mabuk ini bisa berupa mual, pusing, nyeri perut, muntah.

Sebenarnya tidak perlu ke dokter jika tidak berlangsung lama. Namun jika terlihat sangat nyeri, segera ke dokter. Sebagai upaya penanganannya, tawari minuman atau minta anak tidur saat berkendara.

 

  1. Stres

Otak manusia berinteraksi dengan seluruh tubuh melalui sistem pusat yang memiliki beberapa komponen. Salah satunya adalah enteric nervous system yang mengatur pencernaan. Saat stres, pada beberapa orang ada yang diare, mulas, mual atau nyeri perut.

Tentu penanganannya dengan mengendalikan stres. Berkonsultasilah ke dokter saat Anda khawatir dan nyeri perut yang sangat mengganggu.

(Hil)

Foto: freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 − eight =